From World for Nagekeo
Headlines News :
Home » » Suster Sirilla Alexandra Scc: Pendiri Biara Scc dan Ibu dari 84 Anak Terlantar

Suster Sirilla Alexandra Scc: Pendiri Biara Scc dan Ibu dari 84 Anak Terlantar

Written By Nagekeo Bersatu on Sunday, November 10, 2013 | 10:25 AM

"Hadir di Setiap Nafas Anak-anakku"


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Bagi kebanyakan orang yang pernah mengunjungi rumah tempat anak-anak terlantar tinggal atau dikenal dengan panti asuhan, tulisan ini bisa saja kurang menarik, tapi bercerita tentang seorang sosok, yang berani dan terpanggil mengabdikan diri dan hidupnya bagi anak-anak kurang beruntung ini, tentu selalu menarik.

Suster Sirilla, lahir di Nangaroro, Nagekeo, Flores, Indonesia adalah wanita hebat itu. Betapa tidak? Lahir dan tumbuh besar dari keluarga biasa, Sirilla kecil telah berangan-angan menjadi seorang Suster, pendoa dan pelayan. Ketika Sirilla bertumbuh dewasa, dia dengan mantap menggapai angan-angan tadi, menjadi seorang suster pendoa sekaligus pelayan anak-anak terlantar.

Sempat mengabdikan diri dan hidupnya bersama biara suster ALMA selama 14 tahun, Suster Sirilla kemudian menentukan jalannya sendiri, jalan baru untuk melayani anak-anak terlantar dengan lebih dekat lagi dan penuh totalitas.

Berhenti dari anggota persekutuan suster ALMA pada 2007, Suster Sirilla Alexandra, Scc bersama Frater Yohanes Ari, Scc mendirikan biara baru bernama Serikat Hidup Apostolik Servitium Caritatis Christi (Scc) pada tahun yang sama.

ST. Hieronimus Emillianus (1481-1537) menjadi pelindung Biara Scc ini dan almarhum Mgr. Isak Dura, Pr menjadi pembimbingnya.

Suster Sirilla Alexandra, Scc menjadi rohaniwati pertama asal Flores, mungkin juga untuk Indonesia, yang mendirikan biara suster di Indonesia. Biara Suster yang berkembang di tanah air umumnya berasal dari daratan Eropa.

Almarhum Uskup Gabriel Manek, SVD, juga adalah rohaniwan pertama asal Flores, dan mungkin  Indonesia, yang mendirikan biara suster bernama Tarekat Putri-Putri Renya Rosari (PRR).

Bersama 25 karyawan, termasuk 6 guru pengajar di dalamnya, Suster Sirilla, Scc dan Frater Yohanes Ari, Scc, plus 5 suster dan calon suster (postulat) lainnya, tekun dan bersemangat menghidupi dan mendidik 84 anak terlantar. Suster Sirilla sendiri menjadi pimpinan pada Panti Asuhan (PA) Pelayanan Kasih Bhakti Mandiri milik Biara Scc itu.

Dari mana anak-anak terlantar itu?

Nagekeo Pos berhasil mewawancarai Hendra, anak pertama yang diasuh Suster Sirilla dan keluarga besar PA Pelayanan Kasih Bhakti Mandiri.

Kisah Suster Sirilla bertemu Hendra pertama kali di stasiun kereta api Jatinegara, Jakarta sudah dibuat videonya. Sangat terharu menyaksikan kisah dalam video ini.

Suster Sirilla dengan mengenakan busana yang sederhana dan penampilan yang seadanya menemui anak-anak terlantar di beberapa tempat di wilayah Jakarta.

Anak-anak terlantar ini tidak sekolah karena mereka harus mencari uang sendiri, bahkan untuk membeli makan buat orangtua, dengan menjadi pemulung sampah atau mengamen di jalan, dalam bis, kereta.

Hendra berjumpa dengan Suster Sirilla ketika sedang mengumpulkan barang-barang bekas yang masih bisa dijadikan uang dari onggokan-onggokan sampah di sekitar stasiun kereta api Jatinegara.

"Tahu saya tidak tamat SD dan jadi pemulung, Suster Sirilla menawarkan saya ikut dengannya dan dijanjikan masuk sekolah. Awalnya saya takut, dalam hati saya berpikir jangan-jangan saya ditipu. Tapi suara hati saya berani mau ikut.. ya saya ikut," cerita Hendra.

Hendra ternyata berhasil tamat SMK jurusan travel dan sudah bekerja di kantor travel Netfare di Jakarta. Dia tinggal di kos dekat kantor namun setiap Sabtu dan Minggu kembali menginap bersama adik-adiknya di panti asuhan. Hendra yang jauh tampan dari sosok pemulung dahulu kini sungguh-sungguh menjadi panutan/inspirator bagi adik-adiknya di panti asuhan.

"Saya bangga dan senang karena Suster Sirilla membebaskan kami untuk memilih sekolah dan sekarang saya boleh menengok ibu saya sekali dalam sebulan," ujar Hendra sambil tersenyum haru. Selain Hendra, satu teman lainnya juga sudah bekerja di sebuah perusahaan otomotif.

Berkat Kekuatan Doa

Tinggal kurang dari 5 bulan PA Pelayanan Kasih Bhakti Mandiri milik Biara Scc itu akan memasuki usianya yang ke-7, jatuh pada 27 Maret 2014 nanti. Suster Sirilla, Scc bersama Frater Yohanes Ari, Scc mulai bernapas legah karena Tuhan menjawab banyak permohonan kedua pelayanNya ini, termasuk permohonan mendapat bantuan finansial dari para donatur.

"Kami benar-benar mulai dari nol karena tidak punya apa-apa, dan terbukti berkat Kekuatan Doa dan novena, Tuhan menolong kami. Dengan bantuan para donatur kami sudah bisa bangun rumah sendiri empat lantai dengan biaya sekitar Rp4 miliar," cerita Suster Sirilla ketika diwawancara Nagekeo Pos di rumah panti asuhannya di Cibubur, Jakarta.

Saat pergi ke Israel, Suster Sirilla menyampaikan ujud khusus bagi para donatur dan keluarga besar panti asuhan dan anggota Biara Scc. Ujud khusus itu ditulis pada lembaran kertas dan ditaruh di kubur Yesus di Kalvari.

Sebagai kepala rumah tangga, Suster Sirilla mulai berpikir untuk mandiri secara ekonomi. Dana-dana yang didapat dari donatur akan gunakan untuk memiliki tanah/kebun sendiri, bentuk desa taruna untuk menggarap kebun dan peternakan misalnya.

Keluarga besar panti asuhan, termasuk Biara Scc, juga terus menggalang dana dengan menjual karya sendiri seperti barang-barang kudus, cangkir, kue, minyak kelapa murni, furniture, dan album rohani.

Seperti anak sendiri

Tinggal satu rumah dengan lebih dari 90 anggota keluarga, tak bedanya situasi sebuah asrama besar. Yang membuat unik, suasana rumah panti asuhan anak terlantar adalah mereka sungguh-sungguh satu keluarga besar yang punya satu orang tua yang sama.

Tentu Suster Sirilla, Scc dan Frater Yohanes Ari, Scc adalah ibu dan ayah kandung mereka. Sebagian besar dirawat suster dan frater ini sejak masih bayi bahkan semenjak dilahirkan.


Ada orangtua bayi sendiri yang membawa bayi mereka ke panti asuhan atau ada rumah sakit yang menelpon jika ada bayi yang mau dititipkan.

Banyak ibu-ibu yang tidak ingin, tidak sanggup, tidak menerima kehadiran bayi mereka. Kadang ibu hamil datang ke panti asuhan untuk melahirkan bayinya kemudian tinggalkan bayi itu lalu pergi menghilang begitu saja.

Dari 84 anak terlantar, tidak lebih dari 5 orangtua yang datang mengunjungi anak mereka di panti asuhan karena ingat akan anak mereka. Selebihnya tak mau peduli lagi.

Suster Sirilla, Scc hanya membolehkan orangtua mengunjungi anak mereka satu kali dalam sebulan. Dan boleh dijemput kembali orangtua jika telah menamatkan sekolah tingkat lanjutan atas (SMA).

Bagaimana dengan anak-anak terlantar yang telah ditinggalkan orangtua mereka sejak dilahirkan? Suster Sirilla, Scc memilih memiliki anak-anak ini atau menjadi ibu kandung mereka. Suster tidak mengijinkan anak-anaknya diadopsi orang lain.

Ketika awak redaksi Nagekeo Pos tiba di ruang tengah rumah panti, segerombolan anak-anak berusia 3-5 tahun langsung kerubuti awak redaksi, melancarkan banyak pertanyaan sambil berebut memeluk awak redaksi.

Situasi baru yang mengharukan, anak-anak ini cepat akrab dengan tamu. Dalam benak mereka, tamu bukanlah orang asing, tapi kehadiran tamu menjadi kerinduan mereka.

Anak-anak terlantar ini memiliki dunianya sendiri, dunia yang indah, ceria, dunia yang ramai, tak satupun dari mereka mengalami situasi menyendiri. Mereka bertumbuh, berekspresi dalam kebersamaan dan cinta yang satu.

Apakah mereka bertanya tentang orangtua mereka?

"Saya lebih sayang dan rindu adik-adikku di sini (di panti)..saya belum kembali tinggal dengan ibu..mungkin setelah saya punya uang dulu..," ujar Hendra, anak sulung Suster Sirilla, Scc, ketika ditanya Nagekeo Pos.

"Saya ingin mereka bisa makan..tidak mengemis lagi..jika mereka memilih kembali ke orangtua," kata Suster Sirilla, Scc.

"Kami urus anak-anak ini seperti anak sendiri," ujar ibu Regina, pengasuh anak yang sudah berkarya selama 2 tahun. Ibu Regina sudah punya satu anak tapi mengaku tidak pusing mengurusi 24 anak yang berusia 0-12 tahun di panti asuhan Suster Sirilla, Scc.

Awak redaksi Nagekeo Pos menyaksikan sendiri, bagaimana anak-anak ini bermain, ada yang begitu nakal, yang lain menangis karena berantem (berkelahi), pokoknya banyak tingkah mereka berikut kenakalan. Sebagian lagi asyik nonton televisi atau bermain karena disediakan beberapa fasilitas permainan.

"Kalo ada yang tersinggung, kami lapor ke suster dan frater untuk diadili," papar ibu Regina."Tapi mereka itu seperti kakak beradik. Kami bisa hafal nama semua anak-anak dan kelakuan mereka."


Tibalah waktunya makan malam. Anak-anak (0-12 tahun) duduk rapi di lantai, membentuk lingkaran, lalu satu anak (Yoan, 5 tahun) berdiri di tengah dan memimpin doa makan.

"Tuhan Yesus, terima kasih atas berkat perlindunganMu dari pagi hingga malam ini. Sekarang kami mau makan, berkatilah makanan ini, semoga berguna bagi tubuh kami, Amin." Yoan mengucapkan doa ini dengan mantap karena sudah menghafalnya.

Usai makan malam, awak redaksi pamit pulang dan anak-anak ini berlomba-lomba memberi salam perpisahan. Wajah mereka ceria saja karena ruang tengah sudah full (kenyang). Sebaliknya awak redaksi mulai gontai perasaannya karena harus meninggalkan mereka.

Saat ingin bertemu Suster Sirilla, Scc di ruangannya, awak redaksi bertemu dengan anak-anak panti yang sudah di bangku SD hingga SMA di rumah baru empat lantai yang baru dibangun, persis bersebelahan dengan rumah panti pertama yang dihuni anak-anak usia 0-12 tahun tadi.

Anak SD-SMA itu, sekitar 60 siswa, sedang tekun belajar, dan seluruh ruangan mereka tertata rapi dan bersih. Di pagi hari hingga siang mereka pergi ke sekolah yang ada di sekitar panti, lalu mengerjakan pekerjaan rumah di panti dan mendapat les/pelajaran tambahan dari para suster dan frater pada sore hari. (Tim Redaksi)

Suster Sirilla Alexandra, Scc

Tuhan, aku wanita biasa dan sederhana
Aku tidak mempunyai segala yang istimewa
Tetapi kasihku sempurna untuk anak anakku
Sebab aku Kau ciptakan untuk mencintai mereka

Berilah anak-anakku jalan kehidupan
Sebab itulah yang membuatku bersyukur pada-Mu
Aku Ibu yang tak akan selalu menjaga
Tetapi mata hatiku ada di setiap nafas mereka

Janganlah hidupku menjadi beban bagi anak-anakku
Supaya mereka lega waktu mengunjungi aku
Sebab aku memang ada untuk menjaga mereka 

Aku mencintai anak-anakku.

Written by : Nagekeo Bersatu ~ Berita Online Nagekeo

Anda sedang membaca sebuah artikel yang berjudul Suster Sirilla Alexandra Scc: Pendiri Biara Scc dan Ibu dari 84 Anak Terlantar,, Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda . Anda boleh menyebar luaskannya atau Mengcopy Paste-nya jika Artikel Suster Sirilla Alexandra Scc: Pendiri Biara Scc dan Ibu dari 84 Anak Terlantar ini sangat bermanfaat bagi Blog dan teman-teman Anda, Namun jangan lupa untuk Meletakkan link Suster Sirilla Alexandra Scc: Pendiri Biara Scc dan Ibu dari 84 Anak Terlantar sebagai sumbernya.

Join Us On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Thank you for Visiting ! ::

Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 10:25 AM
Share this post :

Post a Comment

Note :

1. Berikan komentar Anda yang sesuai dengan isi artikel
2. Berkomentarlah dengan bijak
3. Mohon untuk tidak melakukan SPAM

Semoga Jaringan kita terus terjalin dengan saling berbagi informasi

Regards,
Nagekeo Pos

 
Admin: Hans Obor | Mozalucky | Nagekeo Bersatu
Copyright © 2013. NAGEKEO POS - All Rights Reserved
Thanks To Creating Website Modify and Used by Nagekeo Bersatu
Proudly powered by Blogger