From World for Nagekeo
Headlines News :
Bonie AC Advertise
Support Us With Your Advertise

MENCINTAI NAGEKEO LEWAT TULISAN


Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 7:53 PM

Pamor BBN & Durjana BBM



Hari ini, Redaksi Nagekeo Pos, mendapat undangan dari Ketua bidang promosi sebuah perusahaan produsen biofuel (bahan bakan nabati/BBN).

Longginus Biaedae, tokoh Nagekeo di Jakarta, yang juga anggota grup facebook Nagekeo Bersatu (NB), menempatkan Redaksi Nagekeo Pos setara dengan redaksi media nasional seperti Kompas, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia.

Redaksi Nagekeo Pos diminta hadir di acara launcing (peluncuran) Bahan Bakar Nabati (BBN) di Muara Angke Jakarta, besok Kamis, 27 November jam 1 siang wib.

Materi acara yakni kerja sama riset dan uji coba NABATI dari limbah kelapa sawit, minyak jelantah, destinasi ban bekas dll. Ini bahan bakar penemuan terbaru untuk para nelayan khususnya kapal-kapal nelayan di Muara Angke Jakarta.

"Kami akan bagi gratis 5 ton produk BBN besok untuk lebih dari 10 kapal nelayan. Selama 6 bulan ke depan, kami lakukan uji coba pemanfaatan BBN ini, dengan memasok sekitar 20 ton per hari. Jika hasilnya memuaskan, perusahaan kami mungkin bisa mendapat mandat dari pemerintah pusat untuk memasok BBN bagi kapal nelayan di seluruh Indonesia," jelas Longginus kepada Redaksi Nagekeo Pos siang ini.

10% BBN untuk Solar

Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan, hari ini, menyebutkan saat ini pemerintah sudah punya aturan kewajiban BBN jenis biodiesel 10% untuk solar. Ke depan, bukan tidak mungkin akan ditambah hingga 30%.

"Saat ini kita hanya 10%. Namun sekarang harga CPO sedang rendah. Produsen CPO dalam negeri berharap kita bisa naikkan jadi 20-30%," ungkap Bambang dalam acara Sustainable Development Solutions Network di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (26/11/2014).

Bila para produsen ini bisa memasok lebih banyak untuk pembuatan BBN, lanjut Bambang, bisa saja pemerintah menaikkan kewajiban menjadi sampai 30%. Ini tentu akan berdampak positif buat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pasalnya, ketika lebih banyak BBN digunakan dan itu diproduksi di dalam negeri, maka impor energi akan berkurang. Artinya, anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang nilainya ratusan triliun rupiah per tahun bisa dihemat.

"Kita bisa mengurangi impor BBM. Kita juga bisa mengurangi ketergantungan terhadap BBM," sebutnya.
Hal ini, tambah Bambang, tentu menjadi kabar baik. Ini karena produksi minyak Indonesia terus menurun sehingga separuh kebutuhan dalam negeri harus diimpor.

"Meningkatkan produksi minyak sepertinya mustahil. Tapi kita punya potensi non fosil. Dengan dukungan dari pemerintah, saya yakin pemanfaatannya akan semakin besar," jelasnya.

Nelayan Sulit Peroleh BBM Subsidi

Sementara itu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sempat bercerita soal nelayan kecil yang tidak pernah menikmati Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Ada bukti nyata tak jauh-jauh dari kantor Susi.

Ada sebuah kampung nelayan di utara Jakarta, tepatnya di Cilincing, Jakarta Utara. Para nelayan di sini mengaku tidak pernah menikmati BBM subsidi langsung dari sumbernya.

Kepala Bidang Perikanan, Suku Dinas Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta Lili Litasari mengatakan, kondisi yang membuat nelayan tidak bisa mendapatkan BBM subsidi itu karena nelayan tidak bisa dapat utang.

"Nelayan di sini kan kebanyakan mau melaut atau nangkap ikan dia utang dulu BBM-nya. Nah yang biasa memberi utang BBM itu ya yang jual BBM di pinggir jalan sekitar kampung ini," ujar Lili ditemui di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara, kemarin (Selasa).

DURJANA BBM

Hari ini, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meminta pemerintah menjelaskan alasan kenaikan harga BBM subsidi Rp 2.000 per liter. Menteri ESDM Sudirman menjelaskan, Indonesia adalah negara yang miskin minyak, namun menyuapi rakyatnya dengan BBM murah.

Sementara stok minyak bumi Indonesia hanya tersisa 4,1 miliar barel dan akan habis 10 tahun lagi.
Sudirman Said menanggapi soal rencana DPR akan menggunakan hak interpelasi kepada pemerintah terkait kebijakan menaikkan harga BBM subsidi.

Dengan tegas Sudirman mengatakan bahwa itu hak DPR, namun ia kembali mengingatkan selama ini kebijakan subsidi BBM banyak salah sasaran dan hanya untuk kegiatan konsumtif.

Sudirman mengatakan, sudah disadari lama, BBM subsidi banyak dinikmati kalangan masyarakat kelas menengah-atas.

"Jadi 78% subsidi BBM selama ini ya orang seperti kita-kita ini yang menikmati, bukan masyarakat miskin," ujarnya.

 Menteri ESDM Sudirman Said menegaskan, naiknya harga BBM subsidi akan membuat kemiskinan turun.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 7:03 PM

Bulir-bulir padi yang tak lagi menguning di balik megahnya gedung pemerintahan


Oleh Martin Theodore (Martinus Mai)

Sahabatku, nampaknya genap sudah kekwatiran masyarakat kita atas tidak keberpihakan pemimpin kita terhadap rakyat. Di tengah pergolakan ekonomi rakayat yang terombang-ambing oleh berbagai kemelutan, serta kelangkaan di berbagai dimensi. Pemerintah malah, sempat-sempatnya merampas harta satu-satunya milik rakyat.

Menanggapi tulisan Julius Jera Rema, mengenai “Nani Aoh di Pusaran Konflik Malaruma”, saya menjadi miris dan sedih, dimana kami masyarakat kecil tidak ada yang berpihak, kendanti merampas kami hanya berpasrah.

Bukan soal kelegalitas, atau masalah prosedural, atau masalah sengketa tanah milik suku itu atau suku ini. Melainkan minimnya kebijakan pemerintah dengan mencoba melenyapkan sumber-sumber nafkah milik rakyat. Tambah lagi rendahnya imajinasi pemimpin akan ancaman-ancaman ekonomi di masa mendatang, seakan menopang sendi-sendi ini, untuk berontak.

Saya mengatakan pemimpin telah melenyapkan sumber-sumber nafkah rakyat, dibumbuhi rendahnya imajinasi adalah suatu perasaan kekecewaan yang mendalam.

Jika pemerintah memahami ekonomi kerakyatan, pasti pemerintah akan berusaha bagaimana memperluas areal persawahan, areal pertanian, atau areal perikanan. Bukan membangun gedung-gedung seperti di Jakarta sebagai tempat-tempat pelindung para koruptor.

Mengapa harus merampas lahan seluas 30 ha, sementara harus menyempit areal pertanian. Bukankah masih ada tanah non produktif lainnya, tempat berdiri gedung-gedung mewah yang seakan memancarkan butir-butir arogan ?

Gedung boleh berdiri tapi kita tidak pernah akan melihat padi yang menguning, atau hijauhnya daun sayur-sayuran. Masyarakat kehilangan lahan tempat beradu nasib, sementara pemimpin buntu mencari jalan menuju rakyat sejahtera.

Dalam tulisanku “Borneo (Kalimantan) di tahun 2070”, saya telah memaparkan bagaimana pemuda-pemudi dayak kesulitan mencari sebidang tanah hanya untuk sekedar membuang air kencing, apalagi untuk menanam buah, rotan, racun sumpit, berburu, dll. Itu bukan suatu ilusi, atau kekawatiran belaka, semua akan genap, apabila penambang liar, exploitasi, penebangan liar, dan pelelangan tanah tetap menjadi hobi di negeri ini.

Lalu mengapa kita membangun gedung diatas tanah produktif, di atas tanah rakyat kita ? Apakah hati kita akan lebih tegar melihat rakyat kita kesulitan mencari sebidang tanah untuk menanam serumpun pisang, serumpun singkong apalagi sepetak sawah ?

Kami Bersuara Karena Nasib Kami.
Semangat membangun Nagekeo.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 9:00 PM

Mari Membeli Saham !

Oleh Eman Kure (El-Manoe Dostoevsky)

Markus dan Obet tiba di Jakarta. Dua orang Rendu ini langsung ke Bursa Efek Indonesia (BEI). "Kami mau beli saham, bu. Kami dua punya uang Rp 200 juta. Kami dari Rendu, Flores," kata keduanya kepada Kiki Widyasaridewi, direktur pengembangan BEI. Kiki kaget, tapi kemudian memahami niat dua orang ini.

"Oh tentu bisa, tapi harus ikut mekanismenya. Bapak tidak bisa beli langsung di sini," kata Kiki.

Sembari diajak naik lift, keduanya mendapat penjelasan Kiki. "Di lantai 5 ada perusahaan mentari sekuritas. Nanti bapak-bapak mendaftar di situ sebagai nasabahnya. Sesudah mendaftar baru bisa beli saham. Tapi, kenapa tertarik beli saham pak," kata Kiki, pendek. "Ohh ada saudara kami namanya Robert, orang Bo'anioa. Dia bilang beli saham bisa untung berlipat-lipat," sambar Markus.

Tiba di lantai 5. Dua staf mentari sekuritas sigap melayani. Formulir disodorkan, Markus dan Obet mengisi semua data yg diperlukan. "Ini uang kami, silakan kami mau beli saham," kata Markus. "Maaf pak, uangnya nanti bapa transfer lewat bank. Bapa ke bank sekarang," staf itu menjelaskan. Obet segera ke bank dan mentransfer uang ke rekening mentari sekuritas. Kini, keduanya resmi menjadi nasabah mentari sekuritas dan bisa jual-beli saham di BEI.

Kiki kembali mengajak mereka makan siang. Restoran Siam Thailand di lantai I jadi pilihan. "Sup Tom Yum 3 dan Casava 3," Kiki memesan makanan. Mendengar kata Casava, selera makan Markus membuncah. Casava pun tersaji, Obet melahap sepotong, "Oi ngi laka wai uwi ai, ngero. Gore-gore tau ngaza casava hahaha." Keduanya terbahak. Kiki ikut tertawa. Asyik.

Sambil makan Kiki menjelaskan bagaimana membeli dan menjual saham sebagai investasi di BEI.

Sekarang bapak berdua bisa beli-jual saham di BEI. Melalui Mentari Sekuritas, bapa bapa boleh beli saham yang sudah ada di bursa, atau beli saham perusahaan yang baru. Sebelum membeli bapa harus tahu informasi tentang perusahaan. Informasi penting, misalnya, jenis usaha, keuangan, dll, dibaca pada apa yang disebut Prospektus. Ini semacam buku panduan agar kita tahu semua informasi tentang perusahaan.

Pasar Perdana dan Sekunder

Kebetulan minggu depan Pertamina mau jual saham di BEI. "Ini perusahaan yang baru mau jual saham di bursa. Maka disebut Inintial Public Offering/IPO/penawaran saham perdana. Karena disebut juga pasar, maka ini disebut Pasar Perdana," jelas Kiki. Keduanya sepakat beli saham Pertamina di pasar perdana (primary market).

Pertamina mematok harga saham IPO Rp 1000 per lembar. Markus membeli Rp 100 juta, demikian juga Obet Rp 100 juta. Keduanya, masing-masing memegang 100 ribu lembar, equivalen 1000 lot per orang. 1 lot berisi 500 lembar saham. Lot dipakai sebagai satuan perhitungan transaksi BEI karena menggunakan sistem IT. Kini keduanya resmi menjadi pemegang saham (investor) Pertamina. Kiki lalu memberi penjelasan spesifik.

Saham Markus dan Obet lalu berpindah ke Pasar Sekunder (secondary market) alias tercatat dan ditransaksikan di bursa. Harga perdana tadi senilai Rp 1000 per lembar bisa segera berubah begitu diperdagangkan. Bisa bergerak naik, bisa turun. Katakanlah naik di hari pertama perdagangan sebesar 20 persen, maka markus dan obet meraih untung Rp 200 per lembar jika keduanya menjual ke orang lain menjelang penutupan bursa di sore hari. Harga penutupan menjadi Rp 1.200 per lembar. Tinggal dikalikan Rp 200 x 200 ribu lembar = 40 juta. Obet untung 20 juta, Markus 20 juta.
Tetapi jika keduanya memilih simpan (hold) alias tidak menjual, maka 40 juta hanya dianggap sebagai potensial gain.

Ternyata, keduanya memilih berbeda. Markus langsung menjual di sore hari itu juga, Obet memilih simpan hingga 2015. Markus langsung mengantongi keuntungan Rp 20 juta. Dia berorientasi jangka pendek, sedangkan Obet jangka panjang.

Pasar sekunder BEI otomatis memfasilitasi transaksi langsung, segera, dan seketika atau disebut online trading bagi setiap nasabah perusahaan sekuritas. Markus dan Obet pun menggunakan fasilitas ini. Keuntungan Markus dan Obet dari selisih harga beli dan harga jual tadi disebut capital gain (keuntungan modal), karena beli murah jual mahal.

Capital Gain dan Deviden

Nah, apakah keuntungan keduanya hanya dari capital gain? Tidak! Masih ada satu lagi keuntungan yakni deviden. Ini adalah laba perusahaan (pertamina) tiap tahun yang dibagikan kepada setiap pemegang saham sesuai jumlah lembar saham (persentasi kepemilikan).

Katakanlah tahun 2015 Pertamina mematok laba per lembar saham (earning per share/EPS) Rp 500, lalu memutuskan memberi deviden itu ke pemegang saham, maka Markus dan Obet memperoleh keuntungan tambahan Rp 50 juta per orang. Sayang, deviden ini tidak dinikmati Markus karena dia sudah menjual saham pertamina tahun 2014 di hari pertama perdagangan. Deviden Rp 50 juta ini hanya dinikmati Obet karena masih memegang (hold) saham Pertamina sampai tahun 2015.

Apalagi, jika harga saham Pertamina di BEI pada tahun 2015 terus naik, katakanlah menjadi Rp 2000 per lembar. Maka, Obet selain mendapat deviden Rp 50 juta plus capital gain Rp 1000 per lembar, total keuntungannya menjadi Rp 150 juta, plus modal Rp 100 juta, maka dalam jangka waktu setahun uang Obet di mentari sekuritas tercatat Rp 250 juta.

Jadi, kedua orang Rendu ini mendapat 2 keuntungan yakni capital gain dan deviden jika membeli saham di BEI. Dalam hal saham Pertamina, Obet mendapat capital gain plus deviden, sedangkan Markus hanya capital gain. Markus berorientasi investasi jangka pendek, Obet jangka panjang.

Warga NB (Nagekeo Bersatu) yang baik hati, maaf saya sengaja menulis artikel informatif singkat ini mungkin berguna bagi kita. Markus, Obet, Robert, Pertamina, hanya ilustrasi agar lebih sederhana wkwkwkw.

Setelah 6 bulan menjadi wartawan koran ekonomi main stream Investor Daily, banyak hal menarik saya peroleh. Tetapi ada satu yang mengusik. Ternyata, belum ada -kalau pun ada tak lebih dari 10), orang Nagekeo menjadi investor di pasar modal. Padahal, dunia pasar modal khususnya pasar saham begitu menjanjikan. Tentu, butuh pengetahuan yang baik tentang pasar saham. Dan, pengetahuan itu bisa kita peroleh dari mana-mana.

Semoga bermanfaat.......
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 8:46 PM

CORETAN RINGAN : Ketika Wartawan Mengancam Narasumbernya

oleh JULIUS JERA REMA

"Halo bung, slmat siang! Apa bisa kita ketemu siang ini?"

"Maaf, dengan siapa ini?"

"Emm, emm, dgn N..., kawan." Tiiinngg,,,,,saya matikan telepon.

Lima menit berselang, "halo bung, maaf sy dpt rekomendasi dari kawan......sy diminta hubungi anda....." tiiinggg, sy matikan lagi teleponku.

Sepuluh menit kemudian kawanku menelpon sy. Bla bla bla bla,..... Sy paham.

Tak lama berselang si N... kembali menelepon. Sepakat. Kami bertemu di Pacific Place. Makan siang.

Meja bundar itu dipenuhi makanan. Bermacam-macam. Ada ribs, tenderloin, sirloin dari aussie, red wine, white wine, lengkap. Ada bir. Dua gadis pelayan berdiri sigap tak jauh dari meja makan. Berpakaian rapi, wangi. Sy lalu sadar, kami berada dlm private room The Ritz Carlton Hotel. Sy bergumam dalam hati, "siapa org ini dan utk apa dia menjamu saya?"

"Bung, sy sdh kenal anda cukup lama, tapi sy yakin bung seng kenal kita toh, hehehee."

Sambil makan dia terus membual. Si N... mengaku punya banyak teman di mana-mana. Di Mabes P, Mabes T, DPR, kabinet, lembaga sandi B, sandi B yg lainnya, dsb. Sy irit bicara, lbh banyak mengangguk. Sesekali sy menatap matanya lekat-lekat. Dia menunduk. Atau, memanggil pelayan lalu menawarkan sy makanan.

Dua jam, makan siang selesai. Sy lalu bertanya basa basi. "Broer, apa yg bisa sy bantu?"

"Nah, begini brader. Minggu depan SK utk sy terbit. Sy jadi Dirut salah satu BUMN. Brader bantu sy keluarkan brita besok bahwa BUMN itu akan dijabat oleh sy. Tapi, jgn kutip sy. Sumber dirahasiakan. Brader bisa ngarang lah."

Sy diam saja. Dia lalu melanjutkan, "nama sy sdh di Menko R. Gampang, pak R... bisa tekan Meneg BUMN. Dan, sy pasti jadi Dirut."

Sy lalu bertanya ngalur ngidul sekadar memancing kengawurannya.

"Brader, ini ada proyek besar. Kalau jd, kita yg pegang hak paten dan distribusi ke smua petani sluruh Indonesia."

Si N... mengaku, proyek tersebut adalah hak paten dan distribusi pupuk organic yg akan segera "dipatenkan" Litbang Kementerian Pertanian, Sucofindo.

Tak lama berselang, kami berpisah. Tiba di kantor, sy melacak informasi kemana-mana. Sy menelepon seorang pejabat di Kementerian Pertanian. Pejabat itu mengaku, benar, ada pupuk organic yg sedang "diteliti" pihaknya. Tetapi, mash butuh waktu lama karena proses validasi harus ketat. Dan, tdk dlm wktu dekat. Pejabat itu juga menegaskan, BUMN sbg distributor sbgamana kata si N.., hanya bualan. Soalnya, pemegang hak paten dan distributor adalah dua perusahaan berbeda. Yang satu swasta murni, yang lainnya BUMN. Tidak cukup, sy lalu melacak informasi tambahan. Nihil. Kesimpulan sy, si N,,, pembual. Berita tdk sy tulis.

Pukul 08.00 esok hari, telepon sy berdering. Di layar tertera si N.."Pagi brader. Apa brita tidak jadi naikkah?"

"Sorry broer, halaman sdh penuh," sy ngeles. "Mungkin besok." Si N... terdengar memaklumi.

Telepon sy berdering lagi esok hari. Kali ini suaranya meninggi.

"Brader, katanya hari ini brita terbit." "Waduh, sorry broer, ketabrak iklan." Tiiiingggg....dia mematikan telepon.

Hari ketiga. Kali ini sms. Isinya mencaci sy. Seketika, sy naik darah. Sy telepon balik. Dia angkat.

"Hei, kau mau apa? Siapa kau mau perintah2 sy naikkkan brita? Bisa kupecahin kepala kau."

Dia merendah dan terdengar gugup. "Aa, a,,a, bukan brader, sorry, sorry," tiiiinnggg, sy matikan telepon.

(Memori 2010, sy lupa bulan berapa).

Belum lama ini si N dicokok polisi. Wah, memang "gila " anak muda itu wkwkwkwkww.....

Coretan ini skadar berbagi pengalaman utk ade-ade wartawan, atau yg berminat jd wartawan hehehe..
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 8:32 PM

Nagekeo perlu investasi untuk merangsang pertumbuhan ekonomi rakyat

Oleh Dominggus Ate, tinggal di Batam

"Masalahnya satu, yaitu lahan sebesar 1000 hektar dan ada 4 masalah lain; ada reformasi agraria, adat, bekas HGU (Hak Guna Usaha) dan transmigrasi" demikian keluh pengusaha garam sekaligus presdir Cheetam, Arthur Tanudjaja dihadapan Saleh Hussin (Menteri perindustrian asal NTT) dalam kunjungan keeja ke Kupang NTT sabtu,15/11/2014. Lebih lanjut kata Arthur "dari 1000 hektar tersebut 231 hektar lahan terkendala reformasi agraria."

Sesuai rencana tahap awal akan menelan biaya lebih kurang USD 25 juta utk pabrik kapasitas 250-300 ribu ton/tahun.

Catatan pinggir I: Cheetam sudah harus memulai proyek sejak 3 tahun lalu tetapi masih terkendala beberapa persoalan diatas, informasi yg beredar menteri Saleh akan menginstruksi agar Pemda Nagekeo, melalui bupati (pak Elias Djo) utk secepatnya membuat dan menandatangani nota kesepahaman bersama Cheetam (Arthur Tanudjaja selaku presdir).

Catatan pinggir II: Mari kita dukung agar semua tahap dalam proses ini segera menemui solusi jitu dengan demikian akan membawa manfaat yg besar utk kita di Nagekeo.

Catatan pinggir III: Mari kita dorong kerja pemda Nagekeo agar mampu menjawabi semua kebutuhan dari sisi investasi di berbagai sektor guna menunjang peningkatan PAD yg mana akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Nagekeo.

Catatan pinggir IV: Sebagai anak daerah di perantauan siap memberi dukungan maksimal berupa konsep dan saran.

Faustinus Wundu: Keluhan PT Chetan itu menjadi PR dan kewajiban Pemda Nagekeo utnuk membantu agar investasinya bisa berjalan dengan baik dengan tidak mengorbankan masyarakat dan daerah Nagekeo, khususnya yang 'terkena' langsung dgn pembangunan industri garam tsb..... Semoga cepat berjalan..... Sukses utk Nagekeo....

Tobby Ndiwa: Harus ada win win solution bagi mereka selaku pemilik tanah yg digunakan. Seperti Freeport: Penyediaan beasiswa, pembangunan infrastruktur sekolah, puskesmas, rumah Ibadat dll., prioritas rekrutment tenaga kerja, atau diutamakan generasi Nagekeo sendiri. Jangan bilang gratis. Karena otonomi daerah harus benar-benar dinikmati oleh masyarakatnya. Bukan pejabat dan investornya.

Dominggus Ate: Setelah terjadi kesepakatan sejak 2010 lalu antara PT. Cheetam yg diwakili oleh presdirnya dan pemda Nagekwo yg diwakili oleh bupati selama dua periode (sebelumnya bupati Nani Ao yang pada akhirnya mangkrak) kini dilanjutkan oleh pak Elias Djo selaku bupati baru mulai menemui titik terang dengan ditandatangani MoU dihadapan pak Salleh selaku menperin dan pak Lebu Raya selaku Gubernur NTT, kita harus meyakini bahwa soal win win solution pasti ada dan skala prioritas dari perusahaan dan pemda sudah barang tentu tidak mungkin mengabaikan kepentingan masyarakat pemilik lahan. Seperti sebelumnya saya malah mengajak kita ikut mengontrol agar proses ini berjalan baik dan memberi banyak utk masyarakat Nagekeo.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 8:22 PM

Bumi Cikarang, Magnet Cinta & Kehidupan Warga Nagekeo

Penulis: Barce Alfred Jawa
fotografer: Fridus Mei Rm

JAKARTA (Nagekeo Pos) - Cikarang merupakan kota industri serta kawasan industri terbesar dan kota terlengkap di Timur Jakarta dan juga adalah kawasan industri terbesar se Asia Tenggara.

Cikarang juga menjadi salah pusat industri nasional dan ibukota pemerintahan kabupaten Bekasi propinsi Jawa Barat.

Bumi Cikarang adalah salah satu kota industri yang sedang berkembang pesat di Timur Jakarta, dengan ratusan bahkan ribuan perusahaan baik berasal mancanegara maupun perusahaan dalam negeri.

Perusaahaan tersebut memenuhi beberapa kawasan industri yang tersebar di wilayah Cikarang dan Cibitung.

Adapun beberapa kawasan industri yang sudah eksis di Cikarang dan Cibitung antara lain: kawasan MM 2100, kawasan Jababeka 1 & 2, kawasan East Jakarta Industrial Park ( EJIP), kawasan industri Delta Silicon 1,2,3, & 4, kawasan Bekasi International Industrial Estate (BIIE] yang dikenal dengan sebutan kawasan Hyundai, kawasan Mulia Industrindo [Mulia Keramik Indah Raya (MKIR), Muliaglass Float (produksi kaca lembaran), Muliaglass Container (produksi botol kemasan dan glassblock), Mulia Safety Glass (produksi kaca mobil)].

Cikarang merupakan ikon kota industri di tanah air. Kehadiran Industrial Park seperti Jababeka, EJIP, Lippo Cikarang, Delta Mas di diwilayah Cikarang ini mirip dengan kawasan industri Jurong di Singapura dan Syah Alam di Malaysia.

Wilayah kota Cikarang sendiri terbagi menjadi lima bagian yaitu Cikarang Pusat, Cikarang Barat, Cikarang Timur, Cikarang Utara dan Cikarang Selatan.

Seiring pertumbuhan kawasan industri di kabupaten Bekasi dibutuhkan pula banyak tenaga kerja.

Di tengah pertumbuhan ekonomi dan globalisasi, perusahaan-perusahaan membutuhkan banyak tenaga kerja sebagai penunjang akan produktivitas dan peningkatan hasil produksi.

Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tenaga kerja yang siap pakai, produktif dan memiliki etos kerja yang tinggi. Kebutuhan akan tenaga ini tidak terpenuhi oleh angkatan kerja di pulau Jawa saja namun menyerap semua tenaga kerja dari seantero nusantara ini.

Hal ini menimbulkan persaingan yang cukup berat dalam meraih kesempatan untuk bekerja dalam kawasan-kawasan industri di atas.

Peluang ini menarik perhatian anak-anak NTT pada umumnya dan Flores pada khususnya untuk mengadu nasib di berbagai perusahaan-perusahaan di kawasan-kawasan industri tersebut.

Di bumi Cikarang ini banyak dijumpai anak-anak NTT yang tersebar di perusahaan-perusahaan raksasa seperti, baja, elektronik, garmen, kimia, consumer goods, keramik, kaca dan lain-lain.

Dari tahun ke tahun jumlah tenaga kerja semakin bertambah. Mereka bermukim di luar sekitar kawasan industri.

Dalam perjalanan waktu muncul perasaan sedaerah yang mendorong mereka untuk membentuk perkumpulan atau kelompok kedaerahan. Mula-mula perkumpulan atau kelompok kedaerahan ini, meliputi wilayah propinsi NTT, seperti perkumpulan masyarakat Flobamora.

Seiring perjalanan waktu perkumpulan-perkumpulan kedaerahan ini lebih mengerucut pada kelompok yang lebih eksklusif seperti kelompok di tingkat kabupaten atau kecamatan.

Seperti kelompok arisan Manggarai, kelompok arisan Sa Ate Bajawa, arisan Mbay, paguyaban Woe Modhe Nangaroro Cikarang, arisan Tubu Musu Ende, arisan Flores Timur.

Paguyuban Woe Modhe

Di bumi Cikarang, tumbuh banyak kelompok Nagekeo diaspora, satu diantaranya adalah paguyuban Woe Modhe Nangororo Cikarang.

Sebelum terbentuknya paguyuban Woe Modhe Cikarang, dan arisan Mbay ada beberapa perintis dari warga Nagekeo yang telah terlebih dahulu bekerja di wilayah Cikarang. Seperti alm. Matheus Tiba, Primus Nanga, alm. Marsianus Daga, alm. Stanis Paso, Rafael Dapa & Rikardus Nai.

Beberapa tahun kemudian para pemuda dari Nagekeo berdatangan untuk mencari pekerjaan di kawasan-kawasan industri Cikarang. Arus urbanisasi ini seiring dengan semakin berkembangnya industri di di wilayah Cikarang.

Dengan semakin bertambahnya jumlah pendatang dari Nagekeo, memotivasi mereka untuk selalu berkumpul bersama dalam komunitas seasal. Hal ini menjadi cikal bakal terbentuknya paguyuban Woe Modhe Cikarang.

Terbentuknya paguyuban dengan mengambil nama Woe Modhe terinspirasi dari asal kata dalam bahasa daerah Nagekeo yang artinya sahabat karib atau sahabat sejati (Woe = teman/sahabat. Modhe = indah/cantik).

Dari asal kata Woe Modhe ini maka terbentuklah paguyuban dengan nama Woe Modhe yang mengambil spirit “woe miu modhe-modhe jeka nipi kombe”.

Persaudaraan dan kebersamaan yang harus selalu terjalin hingga mengalir sampai ke sum-sum.
Paguyuban ini dibentuk pada tanggal 16 Juni 2000 dengan kegiatan awal berupa minu ae petu untuk persiapan pernikahan salah satu anggotanya.

Selanjutnya terbentuk arisan bulanan dan koperasi simpan pinjam sehingga tali silaturahmi semakin terjalin karena adanya pertemuan bulanan di rumah-rumah anggota yang mendapatkan arisan.

Kebersaaman ini membangkitkan rasa solidaritas sesama anggota. Jika ada yang mengalami musibah atau sakit bahkan kematian, anggota paguyuban ini bahu membahu dalam meringankan beban atau memberi hiburan bagi keluarga yang mengalami musibah.

Dalam moment lain seperti pernikahan dan sambut baru serta baptisan anak, anggota kelompok bersama-sama ikut dalam kepanitiaan sebagai wujud persaudaraan yang sejati.

Pada perkembangan selanjutnya seiring dengan telah memasuki kehidupan berkeluarga dan mendapatkan keturunan, paguyuban ini membentuk tabungan pendidikan yang dikenal dengan sebutan “woe modhe junior”.

Maksud dan tujuannya adalah bersama-sama menabung untuk pendidikan anak. Uang tabungan ini dapat dipinjamkan di saat anak-anak memasuki sekolah atau jelang awal semester. Hal ini sangat membantu mengingat begitu mahalnya biaya pendidikan anak sekarang ini.

Bagi saudara-saudara yang baru datang dan yang ingin mencari pekerjaan di Cikarang ataupun di kota-kota besar di wilayah Jabodetabek hendaklah mencari tahu dan bergabung dengan perkumpulan seperti ini.

Disamping itu harus mempersiapkan diri baik-baik dalam hal ijazah, surat pindah penduduk dan lain-lain. Karena aspek-aspek itu menjadi prasyarat untuk mendapatkan perkerjaan di kota besar.

Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 7:43 PM
 
Join Our Group On Facebook
Follow Us
Admin: Hans Obor | Mozalucky | Nagekeo Bersatu
Copyright © 2013. NAGEKEO POS - All Rights Reserved
Thanks To Creating Website Modify and Used by Nagekeo Bersatu
Proudly powered by Blogger