From World for Nagekeo
Headlines News :
Bonie AC Advertise
Support Us With Your Advertise

Gereja Ritti: Mereka yang memberi

JAKARTA (Nagekeo Pos) - Jenderal Gories Mere, putra terbaik dari Ritti, Nangaroro, sekaligus penggagas kegiatan penggalangan dana bagi pembangunan (renovasi) Gereja Kristus Raja di Ritti, turut memberi sumbangan sebesar Rp100 juta.

Penggalangan dana ini dilakukan saat keluarga besar Nangaroro dan Keo Tengah, dua kecamatan di wilayah selatan kabupaten Nagekeo ini, mengadakan Pesta Paskah Bersama Keluarga Besar Nangaroro-Keo Tengah se-Jabodetabek pada Sabtu lalu (2 Mei).

Gereja Kristus Raja Ritti adalah salah satu gereja tertua di Flores yang telah berusia 46 tahun. Bangunan gereja ini mengalami banyak kerusakan akibat gempa bumi medio 1992.

Ketua Panitia Paskah Bersama, Konradus Wawo, politisi potensial NTT di Jakarta, memberi apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua undangan yang telah menyumbang uang secara sukarela dan sukacita pada acara Penggalangan Dana usai Misa Paskah di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah itu.

Selain Jenderal Gories Mere yang aktif memberi sumbangsih (pikiran, moril, finansial) bagi pembangunan kehidupan ekonomi, sosial dan keagamaan bagi masyarakat Flores dan NTT, politisi dan pengusaha muda, Valens Daki-Soo, pemilik perusahaan jasa konsultan PT Veritas Dharma Satya (VDS) juga turut menyumbang dana sebesar Rp50 juta untuk Gereja Ritti.

Ikut menyumbang dengan memenangkan sesi lelang bingkai cantik dan produk budaya George Soge Soo adalah Wiliam Yani Wea (Wily) (Rp17 juta), Yoseph Araoudji (Rp15 juta), dan Damian Bilo (Rp13 juta).

Sementara penyumbang dana yang memenangkan lelang "Lipe" (gabha) atau tas gantung nagekeo adalah Bertoldus Lalo, Valens Daki Soo, Rafael Ole dari Nuasbosi Ende dengan nominal Rp1 juta masing-masing.

Yang memenangkan lelang lipe/gabha dengan nominal Rp500 ribu adalah Yosef Juwa Dobe Ngole, Romo Ronny Netowuli, Pr, Aristo Yanuarius Seda, dan Yoseph Leleputra dari Ende.

Secara total, jumlah dana yang dihimpun mencapai sebesar Rp275 juta bagi pembangunan Gereja Kristus Raja di Ritti, Nangaroro.

"Terima kasih buat para donatur dan dermawan...upahmu besar di Surga...Tuhan maha baik," ujar juru lelang Bernadus Yohannes Raldy Doy, tokoh media nasional yang inspiring dan menaruh perhatian pada politik ini.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 8:40 PM

Gereja Ritti: Marselinus Ado Wawo & Rp275 Juta Dana


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Keluarga besar kecamatan Nangaroro dan Keo Tengah se-Jabodetabek, beserta undangan yang hadir, pada Sabtu (2 Mei 2015) berhasil menghimpun dana sebesar Rp275 juta bagi pembangunan Gereja Kristus Raja di Ritti, Nangaroro.

Gereja Kristus Raja Ritti adalah salah satu gereja tertua di Flores yang telah berusia 46 tahun. Bangunan gereja ini mengalami banyak kerusakan akibat gempa bumi medio 1992.

Marselinus Ado Wawo, tokoh NTT di Jakarta, yang juga putra kelahiran Ritti-Nangaroro, Nagekeo, Flores ini, mendapat mandat sebagai Ketua Penggalangan Dana.

Memanfaatkan momen Paskah, Keluarga Nangaroro dan Keo Tengah sukses merayakan Paskah Bersama 2015 di Anjungan NTT tadi malam, media terbaik menghimpun keluarga kedua kecamatan ini se-Jabodetabek dalam menggalang dana bagi pembangunan Gereja di Ritti.

Menurut Marselinus Ado Wawo, penggalangan dana ini digagas oleh Jenderal Gories Mere yang juga putra terbaik dari Ritti, Nangaroro.

"Jenderal Gories yang menggagas acara ini karena terketuk hati untuk mengajak seluruh keluarga Ritti, Nangaroro, Keo Tengah, di Jabodetabek ambil bagian dalam karya pembangunan gereja di Ritti," ujar Marselinus Ado Wawo dalam sambutannya.

"Banyak sekali saudara-saudara kita yang berkehendak baik untuk ikut menyumbang karena itu kami siapkan 1,000 amplop," kata Marselinus.

Perjuangan umat di Ritti luar biasa besar karena salib (beban) mereka berat sekali, kita warga Nagekeo Diaspora ikut membantu meringankan beban umat di Ritti, ujar Marselinus kepada Redaksi Nagekeo Pos.

Pastor Paroki Ritti, Romo Paulus Sabu Demu, Pr, mengatakan pembangunan (renovasi) Gereja Kristus Raja Ritti membutuhkan biaya sebesar Rp2 milyar, sementara umat Paroki Ritti telah menghimpun dana sebesar Rp700 juta.

Romo Ronny Netowulli, Pr, Pastor Paroki Ritti periode 1998-2001, juga sangat apresiatif dan bangga pada umat Paroki Ritti yang memiliki spirit perjuangan dan etos kerja.

Umat Ritti dan Tonggo, bergandengan tangan dengan keluarga Muslim dan tokoh Muslim Husein Ndae Pape, berhasil membangun jalan raya hingga menembus Gereja Kristus Raja pada masa Romo Ronny berkarya di sana.

"Jalan raya itu akhirnya membebaskan orang Ritti Tonggo dari keterisolasian dan ekonomipun mulai bertumbuh," ujar Romo Ronny saat memberi Kotbah pada Misa Paskah Bersama tadi malam.

Misa Paskah dengan tema Tiada Kasih Tanpa Peduli itu berlangsung sangat meriah dengan empat Imam Konselebran, Romo Edu Dopo SJ, Rommo Ronny, Romo Paulus, dan Romo Paulinus Kanisius Ndoa, Pr, didukung tarian dari Sanggar Kotakeo, Bhea Sa oleh Abraham Runga Mali, dan Koor Gabungan dengan lagu-lagu gubahan Piet Wani.

Florasta Indonesia, Pendugu, Kantor Perwakilan NTT Jakarta, dan Pengelola Taman Mini Indonesia Indah turut mendukung acara ini. Tanggung jawab ketua panitia untuk acara ini dilakoni dengan sangat baik oleh Konradus Wawo, salah satu toko muda potensial NTT di Jakarta.

Juru Lelang & Karya Budaya George Soge Soo

Selain donasi dari Jenderal Gories Mere dan sumbangan 1000 amplop dari para undangan dan keluarga besar Flores di Jakarta, juru lelang, Bernadus Yohannes Raldy Doy, sangat maksimal meraup dana sekitar Rp73 juta melalui lelang produk cantik bernuansa budaya dan religi karya George Soge Soo, musisi dan budayawan NTT, yang juga pemilik Florasta Indonesia dan Pendugu.

Tobby Ndiwa, musisi populer asal NTT ini, didukung George Soge Soo dan Yanto (penyanyi berbakat dari Ambon), menghibur sekitar 700 undangan yang hadir dan berjubel di pelataran anjungan NTT Taman Mini dengan lagu-lagu paling hits bernuansa NTT hingga menjelang pagi.

Ibu Tris, istri Marselinus Ado Wawo, dan ibu Este Liebe juga tak kalah hebat memnghadirkan suguhan menu makan pesta ala NTT. Sementara momen-momen terindah direkam sangat detil oleh juru potret handal, Emmanuel Billy, Alamsyah Puasaba, dan Yulius Kota Hallo.

UBI CARITAS EST VERA DEUS IBI EST
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 12:10 AM

Maria Elisabet & Kostum Nagekeo (galeri foto)



 


Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 7:39 PM

Maria Elisabet, Kain Telopoi, & Duta Budaya

JAKARTA (Nagekeo Pos) - Maria Elisabet adalah sosok wanita Nagekeo yang sangat populer saat ini, tentu karena semangat dan pengabdiannya bagi karya budaya terindah milik masyarakat Nagekeo seperti kain tenun.

Publik Indonesia, juga manca negara, mungkin tak asing lagi dengan motif kain tenun Nagekeo, Flores ini, karena teknologi media sosial turut membantu menyebarkan hingga ke ujung dunia.

Maria Elisabet begitu dikenal dan familiar bagi komunitas dunia maya (dumay) karena secara intensif mempromosikan kekayaan budaya Nagekeo via media sosial termasuk facebook.

Promosi budaya secara online (internet/dunia maya) dan offline (pameran dunia nyata) gencar dilakukan Maria Elisabet bersama koleganya di Kopoerindag Nagekeo.

Maria Elisabet menjadi sorotan hebat ketika mengunggah foto dirinya dengan sarung tenun dari Rendu (kain Telopoi), Aesesa Selatan. Kain cantik asal Nagekeo ini dibandrol Rp400 ribu per potong.

Kain Telopoi saat ini diproduksi di setiap desa di Kecamatan Aesesa Selatan. Menurut pengakuan Maria, Kain Telopoi telah banyak menarik peminat. Aesesa Selatan, mekar dari Aesesa, didominasi oleh masyarakat adat Rendu.

"Begitulah kami yangg kerja di Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag). Jadi banyak hal yang harus dipromosikan," tulis Maria Elisabet saat merespon banyak apresiasi dari publik nusantara di jaringan facebook.

Maria dan koleganya, tidak sekedar menjalankan tupoksi, tapi penuh semangat dan pengabdian melakukan promosi produk kerajinan Nagekeo. Harapannya adalah para pengrajin lebih sejahtera.

Animo generasi muda untuk mencintai produk budaya lokal juga menjadi perhatian Dinas Koperindag Nagekeo. Kegiatan lomba asah terampil koperasi antar pelajar SLTA adalah contoh gerakan membangun animo dimaksud. Pada saat yang bersamaan, Koperindag Nagekeo, giat dengan gerakan koperasi tingkat kabupaten Nagekeo.

Maria Elisabet paling tidak telah berperan aktif sebagai duta budaya bagi kabupaten tercinta Nagekeo. Kemunculan duta budaya yang lain tentu menjadi aset berharga bagi pelestarian produk budaya lokal.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 7:14 PM

BANGKITKAN GENERASI YANG PUNYA MIMPI

Oleh Romo Benno Ola Tage

Dalam pertemuan dengan keluarga Filippina dengan Paus Francis di MOA (Mall of Asia)-Manila, 16 Januari 2015, Paus Francis menegaskan bahwa keluarga hendaknya menanamkan mimpi Kristiani dalam diri anak, dan keluarga bekerja untuk membuat mimpi itu menjadi kenyataan.

Pesan Paus Francis disebarkan oleh media komunikasi di Filipina, agar pesan ini diterima,dan diimplemantasikan oleh semua keluarga Katolik, khususnya di Filipina dan keluarga Katolik di seluruh dunia pada umumnya. Lewat tulisan dan renungan ini, saya merindukan pesan ini masuk ke dalam keluarga Negekeo dan siapa saja yang membaca tulisan ini.

Anak-anak yang mempunyai mimpi akan menciptakan keluarga yang punya mimpi, Keluarga-keluarga yang punya mimpi akan menciptakan kampung dan stasi yang punya mimpi.Kampung-kampung yang punya mimpi akan menciptakan desa dan paroki yang punya mimpi.. dan seterusnya, sampai pada bangsa dan Gereja yang punya mimpi.

Apabila mimpi terus menerus disampaikan turun temurun, maka anak-anak yang lahir mendapatkan dirinya dalam keluarga dan masyarakat yang punya mimpi.Mimpi-mimpi itu menjadi gambaran harapan keluarga dan masyaraktnya atas dirinya. Mimpi itu akan menjadi kiblat dari studinya. Orangtua menangkap semangat untuk mewujudkan mimpi terjadi dalam diri anak, dan sang anak mampu melihat dalam kerja keras orangtua diarahkan agar mimpi itu menjadi kenyataan.

Apakah ada mimpi dalam diri anak-anak Negekeo? Apakah keluarga-keluarga kita mempunyai mimpi atas masa depan anak-anaknya? Dan mereka tunjukkan mimpi itu lewat nasehat, perilaku dan pekerjaannya?

Saya telah meninggalkan Flores sejak tahun 1984. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini berdasarkan reset terkini dari perilaku keluarga Nagekeo saat ini. Saya hanya mampu memungut dari pengalaman tahun 80-an dan serpihan informasi yang saya tangkap dari keluarga dan masyarakat di saat saya cuti setiap 3 tahun sekali.

Suatu hari, pada hari libur sebagai siswa seminari Mataloko, dalam sebuah kunjungan keluarga, Sang putra, yang sedang sekolah SMP, kelas II menyampaikan pada orangtua, bahwa ia mau berhenti sekolah. Orangtua katakan: molo, kema sawah."

Apa yang sebenarnya terjadi? Orangtua semacam ini tak punya mimpi untuk anak-anaknya, kecuali kema sawah.. "Molo.." artinya baik, setuju. Kema sawah bukan dosa. Tetapi meletakkan mimpi di tataran ini itu membunuh potensi unlimited sang anak. Orangtua semacam ini bisa diukur semangat kerjanya. Jangan-jangan permintaan sang anak sebagai kabar gembira untuk membebaskan mereka dari kerja keras membiaya sekolah.

Generasi yang tak punya mimpi yang tinggi mudah diombang-ambinng oleh situasi yang lagi trend. Saat kaum muda rame-rame ke Malaysia, anak-anak yang belum puberpun merasa sudah dewasa, meninggalkan sekolah untuk ke Malaysia. Sekarang trend jadi tukang ojek, anak-anakpun memjadikan tukang ojek mimpinya. Semua itu tak berdosa... tapi Tuhan memanggil kita untuk memberi, memberi lebih kepada orang lain, maka itu hanya terjadi kalau mimpi yang tinggi, dan menjadi nyata.

Memang ada semacam cacat sosial di Nagekeo pada zaman saya. Anak-anak takut menyampaikan apa cita-citanya secara terbuka dan penuh percaya diri, kecuali anak TKK. Why? Mereka malu nanti mimpi itu gagal. Itu persis sama dengan pola pikir, malu meminta, nanti takut tak diberikan.

Anak-anak dan orang dewasa terkadang menjadikan cita-cita yang disampaikan menjadi bahan ejekan. Ada anak-anak yang mau praktek bahasa Inggris di sekolah atau di masyarakat, dibilang sombong dan pamer kepandaian. Sedangkan yang mengejek terkadang kondisinya lebih parah daripada yang diejek.

Di zamanku mimpi masyarakat paling kuat terhadap anak-anak adalah menjadi pastor dan suster. Masyarakat mendukungnya. Aku adalah produk dari mimpiku, mimpi keluargku, mimpi orang Lape dan mimpi masyarakat Nagekeo.

Aku terima kasih kepada mereka. Orangtua dan masyarakat punya mimpi, anak gadisnya akan menjadi sumber belis. Apakah energi yang sama diberikan masyarakat untuk mendukung anak-anak menjadi menteri, presiden, kapolri, polisi, dosen, ilmuawan, pengusaha? Saya katakan kurang, mungkin tidak.

Hai,anak-anak bermimpi dan katakan mimpi terindah dan tertinggi dalam hidupmu kepada orangtua dan keluarga. Hai orangtua dan sanak saudara sambutlah mimpi mereka, cita-cita mereka dengan sukacita. Sehingga kerja anda, hidup anda dimotivasi dan dipandu oleh mimpi2 anak-anakmu.

Mungkin teman mereka mengejek, dan masyarakat mengolok, tapi anda katakan terus pada anak-annakmu, "Nak belajarlah meraih mimpi dan cita-cita luhurmu." Orangtua bekerja agar mimpi anak-anak menjadi kenyataan. Orangtua tidak hanya bicara, lewat perjuangan orangtua, anakmu tahu, orangtua bercucuran keringat untuk mereka.

Sangat menyakitkan hati orangtua, orangtua punya mimpi atas anaknya, tapi anak tak punya mimpi dan cita-cita. Atau anak-anak punya mimpi, tapi orangtua tak punya mimpi atas anak, sehinggga orangtua tak bisa buat apa-apa. Yang ideal, orangtua punya mimpi sama dengan anak, anak punya mimpi sama dengan orangtua. Maka Tuhan akan membuka jalan.

Syalom, Rm.Benno Ola Tage, Manila-Philippine

Komentar
 
Frederikus Teda: Selamat pagi Kawan Rm Beno, apa kabar? Ada Kekuatan pikiran, Perkataan dan Aksi yang membuat Manusia Nagekeo Sukses di masa datang. Nagekeo ibarat Wea ha sedho, kita harus yakin dan optimis.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 9:06 PM

POLISI DAN POLITISI

Oleh Valens Daki-Soo

Refleksi kecil ini saya tuangkan di atas jalanan yang basah diguyur hujan pagi ini, tatkala Jakarta mulai diremas kemacetan, 'penyakit' klasik yang tak pernah usai. Mendung yang membalut langit Ibukota seolah melukiskan mendung pekat yang menggantung di langit politik Nusantara, negeri kita tercinta.

Mungkin saya mulai dengan pertanyaan ini: apa yang Anda dan saya cari ketika ikut berkompetisi dalam suatu ajang perpolitikan? Sebutlah, itu bisa berbentuk Pilkada, Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden/Wapres dan lain-lain. Untuk Anda yang menjadi petinggi/pejabat melalui mekanisme penunjukan (bukan pemilihan), apa yang ingin Anda gapai ketika ditunjuk untuk menempati posisi penting bagi dan di tengah publik? Pertanyaan ini memang amat gampang dijawab, misalnya 'mengabdikan diri demi kepentingan rakyat', 'memberi yang terbaik bagi bangsa dan negara', atau 'mendedikasikan diri untuk kemaslahatan bersama'. Berderet jawaban bisa menjadi litani panjang.

Benarkah? Apakah benar Anda dan saya lebih kuat digerakkan oleh segala motif idealis itu? Tentu kita tidak bisa bebas absolut dari kepentingan pribadi seperti memberi makan untuk keluarga, menaikkan level kehidupan pribadi, menunjukkan kualitas dan 'kelas' kepribadian dengan eksplorasi maksimal segala bakat dan potensi. Namun, sekali lagi, apakah "hasrat mengabdi" -- yang artinya "lebih banyak memberi ketimbang menerima" -- menjadi motif dominan dalam jiwa kita?

Saya teringat jawaban Pak Gories Mere beberapa tahun silam ketika seorang jenderal senior dari TNI berujar, "Ries, suatu saat Anda jadi Kapolri, asalkan jangan ada masalah besar dalam perjalanan beberapa tahun ke depan." Pak Gories menyahut, "Siap, Bang. Saya hanya ingin jadi polisi, bukan politisi. Kerja saya 'ngejar' penjahat, 'tangkapin' teroris, tegakkan hukum sampai pensiun. Atau kalau saya capek 'ngejar' penjahat, ya berhenti jadi polisi."

Gories Mere adalah figur polisi Indonesia yang paling banyak menerima penghargaan internasional dari sejumlah Kepala Negara dan pimpinan berbagai badan intelijen. Dia juga pernah memimpin asosiasi lembaga-lembaga anti-narkotika sedunia.
Aneka piagam/tanda penghargaan diberikan kepadanya, mulai dari PM Malaysia (yang memberi gelar 'Datuk Tan Sri' untuk Gories) sampai Presiden Bush dan Presiden Obama; dari Kepala Badan Intelijen China hingga Direktur CIA yang secara khusus memberikan tanda penghargaan di Fort Langley, markas besar CIA.

Nama Gories sempat masuk bursa Kapolri beberapa tahun lalu, namun karena 'tekanan politik' dari elemen-elemen radikal, Presiden SBY 'mengabaikan' segala catatan prestasi Gories. Kini, di masa pensiunnya, pria yang pernah menyandang pangkat jenderal bintang tiga itu masih saja disibukkan sebagai 'Advisor Senior' Densus 88/Antiteror Polri dan para perwira muda tetap rajin menemuinya meminta saran dan nasihat.

"Polisi, bukan politisi" -- inilah yang perlu menjadi cermin bagi para perwira Polri era ini. Politisi memang berorientasi kekuasaan. Ketika seseorang terjun ke kolam politik, tujuannya adalah mengambil bagian dalam kekuasaan. Namun, perlu selalu dicamkan, kekuasaan hanyalah memiliki 'nilai medial' (sebagai sarana/alat), bukan nilai final (sebagai tujuan akhir).

Polisi bukanlah politisi, dalam artian bukan profesi yang perlu memburu kekuasaan. Polisi justru harus "memburu para pemburu kekuasaan". Polisi mesti memburu para politisi yang terlalu kencang libido politiknya sampai menghalalkan segala cara -- termasuk dengan KKN dan berbagai modus operandi kriminalis -- untuk merengkuh kekuasaan. Jika polisi berpikir dan bertindak seperti atau sebagai politisi, itu sungguh membunyikan alarm bahaya.

Tentu, tak ada manusia sempurna dan karena itu tiada figur polisi (dan politisi) ideal. Namun, setidaknya kita boleh berharap bahwa Tuhan dan alam semesta selalu membuka ruang bagi hadirnya pribadi-pribadi dengan karakter kuat, jujur, tegas, berani dan tulus hati memberikan dirinya untuk sungguh mengabdi rakyat, bangsa dan negeri ini.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 2:56 PM

Abraham Runga Mali: Ketika 'Babho' Tak Lagi Bertuah (bagian kedua)

Otokritik buat Masyarakat Toto Tanarea

MENJAGA TAPAL BATAS

Bagi masyarakat Toto, konflik dengan Lambo bukanlah yang pertama. Pada tahun 1970-an, ada perkara sengketa lahan sawah di Yefa, Madawitu antara masyarakat Toto dan Lambo. Dengan bukti yang lebih dari cukup, pemerintah menyatakan Yefa adalah bagian dari Tana Toto. Tapi, karena tali kekeluargaan, permintaan orang Lambo untuk bisa tetap menggarap lahan yang pernah mereka garap dikabulkan orang Toto.

Konflik wilayah tapal batas selalu mewarnai sejarah Toto. Setelah penguasaan oleh Belanda yang sangat menyakitkan pada awal abad 19 , masih terus disusul berbagai persoalan tanah yang datang silih berganti yang mengancam kesatuan tanah ulayat Toto tana Rea.

Dalam berbagai peristiwa itu, narasi Digo-Raja dengan berbagai dokumen yang tersedia---terutama sejak jaman Belanda--sepertinya menjadi kunci yang menyelesaikan berbagai persoalan tersebut.

Tahun 1925, Kerajaan Tana Rea bubar dan dibagi kepada 3 swaparaja,yakni Lio, Ende dan Nagekeo. Mereka masih saja berusaha kesatuan tanah persekutuan mereka dan batas-batas itu.

Tentu tidak mudah karena terkait sebuah wilayah yang cukup luas, mendekati besar sebuah kabupaten saat ini. Pada tahun 1917 terdapat 71 kampung, yaitu 21 kampung yang masuk dalam distrik Tanah Djea, 26 di distrik Wolowae dan 24 kampung masuk dalam distrik Nangapenda. (Bdk Domi Juma Pani Pani Pessa, 1979).

Sebelum kedatangan Belanda, seorang tokoh adat di wilayah itu, Nipa Ndua, membuat struktur pembagian wilayah yang dikenal hingga saat ini.

Pengaturan tanah persekutuan Toto Tanarea (tana merhe waktu dewa) dikordinasikan oleh suku Dodo yang dibagi dalam dua bagian, Dodo turunan Digo di wilayah Toto dan Digo turunan Ratja di wilayah Tanah Djea. Mereka adalah Mosa Tana Daki Watu (Mosa Daki Tua Tana).

Di bawahnya terdapat sejumlah suku sedang yang mengatur wilayahnya sendiri (pu’u muku doka dea). Mereka adalah mosa pu’u muku daki doka dea (mosa daki). Di bawahnya masih ada suku-suku kecil (gobho co’co bhari bhete). Pemimpinya disebut Tua Adat.

Lalu masih ada ku ngebo, tanah dengan status hak garapan turun temurun. Terakhir adalah pendatang yang menjadi pengarap yang harus membayar fedho (semacam pajak). (Domi Djuma Pani Pessa, 1979)

Tanah persekutuan itu ditata dan dijaga dalam struktur yang sangat rapi. Keteraturan sangat memudah koordinasi ketika mereka menghadapi musuh bersama dari luar. Makanya tidak mengeherankan kalau sejarawan Stefan Dietrich menilai perlawanan terhadap Belanda di kawasan ini (Perang Watuapi, Agustus 1916-Feburari 1917) sebagai peperangan dengan koordinasi paling rapi dari semua peperangan di Flores. (Stefan Dietrich, Kolonialismus und Mission auf Flores, Klaus Renner Verlag, 1989)

Sebenarnya, dari catatan sejarah, gangguan pertama pada keutuhan wilayah Toto Tanera datang dari pihak Lio tahun 1939 terkait tanah di Togu, Kebirangga.

Raja Nagekeo saat itu J.Djuwa Dobe Ngole dan Bestuur Aisten P.H. Doko turun ke Kaburea dan berdialog dengan rombongan swapraja Lio yang terdiri dari Punggawa Kunu Ndori wangge (Wakil Raja Lio) bersama para tuan tanah dari Kebirangga, Raja Hasan Arubusman (Raja Muda Ende) dan disaksikan pihak Belanda, yakni Beetbeder (Aspirant Controleur).

Peristiwa 1939 itu diselesaikan dengan dibuatkan Memori Teolichting yang disimpan di Bajawa, satu diberikan kepada Bani Nipa, yang kemudian memori tersebut diambil dan disimpan oleh Kesu Pessa dari Nangapenda.

Tahun 1955 pada 30 Maret terjadi pembongkaran bevak di Nangamboa dalam rangka persiapan pembangunan perusahaan semen Ulu Pulu oleh warga dari Tanah Jea atas nama Rasa Gusi, Doo Sea, Eko Kira dan Sumbi Sanggu.

Kepala Daerah Flores (Manteiro) turun tangan bersama Raja Nagekeo dan Raja Ende. Lalu dibuat surat perdamaian antara Kesu Pessa dengan Rae Nipa (Ratedao) dan Waro Nipa (Ute) dengan penegasan segala urusan di Tanah Ute, Rae dan Waro tidak perlu memberitahukan kepada Kesu Pesa. Persoalan selesai.

Sementara itu, gesekan dengan Lio masih terus berlangsung. Tahun 1956 terjadi pembakaran rumah rakyat dan sekolah di Wekaseko oleh masyarakat Kebirangga. Sejak tahun 1959 gesekan itu diperkuat oleh kehadiran masyarakat Buton di bawah pimpinan La Podhi yang sering berpindah-pindah di wilayah kabupaten Ende dan Ngada.

Puncaknya terjadi peristiwa berdarah pada 12 Desember 1978 yang dikenal konflik perbatasan Ende-Ngada. (bdk Laporan Kepala Daerah Tingkat II Ngada Berupa Penjelasan Lengkap tentang Perbatasan Kabupaten Ngada dan Ende di Kabuera, 15 Januari 1979).

Hampir dalam semua peristiwa itu, narasi Digo-Ratja yang dikukuhkan melalui peta-peta Belanda bisa menjadi dasar dialog dan penyelesaian dalam babho dengan para tua adat tetangga yang difasilitasi pemerintah yang berwibawa, tanggap dan cerdas.

Hanya saja, dalam konflik dengan Labolewa di Madawitu narasi komunitas Totot Tanarea mendapat ujian serius. Di hadapan peristiwa berdarah itu, kita pantas mengajukan pertanyaan, apakah narasi itu tak lagi relevan, atau babho—yang dimoderatori oleh Pemda Nagekeo--tidak lagi bertuah?

Lalu muncul dua pilihan bagi masyarakat Toto, mencoba terus bertahan dalam diplomasi, dialog dan argumentasi (baca: babho) atau segera mengandalkan kekuatan tombak dan parang?

Ingat, ketika Belanda datang, dan Toto Tana Rea memilih untuk tidak berdialog (kooperasi) dan melawannya habis-habisan—sementara komunitas/suku lain memilih untuk melakukan kerja sama--maka risikonya ada di pan mata, yaitu kehancuran fisik, kerugian harta benda, kelelahan psikis dan kematian orang-orang terbaiknya.

Pada perlawanan pada Belanda, Nipa Do, kepala Distrik Wolowae mati ditembak, Sangu Papu, Kepala Distrik Tana Djea dipenjarakan di Singapura 10 tahun, Kepa Biu (Koekobho) ditangkap dan ditembak, Do Kepa, putra Kepa Biu dibuang ke Jawa. Hukuman juga menimpa Datja Dhosa (Watu Api), Deru Gore (Kamubheka) , Rubu Radja (Tiwe) , Sato Djoto (Kaburea).

Kepedihan dan duka lara komunitas Toto Tanarea terkait penjajahan Belanda diungkapkan dengan jelas dalam baka-cenda (puisi adat) bertajuk “Buu Bholo Moo” Dalam bagian akhir puisi itu tertulis: “Daju nuka nanga. Kapa nu mai, wua ata laki, ada fai pisu kasi” (when) the steamship si arriving. (It comes) to take men aboard. (And Then) woman can only grumble) (Diambil dari Histroy of Flores/google.com)

Di zaman ketika manusia menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi dan nilai-nilai demokrasi, mestinya komunitas Toto Tanarea tidak bisa lagi meminjam metode perjuangan fisik yang dilakukan oleh para pendahulu mereka.

Lebih dari itu, perjuangan tanah ulayat tidak boleh berhenti pada urusan tapal batas. Mereka harus mulai merumuskan pemanfaatan tanah secara optimal sebagai cara baru dalam teritorialisasi yang menopang identitas lokal dan ada istiadat melalui akumulasi modal secara optimal dalam upaya menghadapi berbagai kontradiksi kapitalisme global.

Untuk hal itu, komunitas Toto boleh meniru komunitas Katu dalam perjuangan mendapatkan tanah mereka di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah (Claudia D’Andrea, Kopi, Adat dan Modal (Teritorialisasi dan Identitas Adat di Taman Nasional Lore Lindu, 2013). Semoga!!!
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 6:46 PM
 
Join Our Group On Facebook
Follow Us
Admin: Hans Obor | Mozalucky | Nagekeo Bersatu
Copyright © 2013. NAGEKEO POS - All Rights Reserved
Thanks To Creating Website Modify and Used by Nagekeo Bersatu
Proudly powered by Blogger