From World for Nagekeo
Headlines News :
Home » » MENEROPONG TRANS SELATAN NAGEKEO, MEMPRIHATINKAN

MENEROPONG TRANS SELATAN NAGEKEO, MEMPRIHATINKAN

Written By Nagekeo Bersatu on Tuesday, November 17, 2015 | 10:05 AM


Oleh : Barce Alfred Jawa

Jalur transportasi darat selatan Nagekeo yang menghubungkan Nangaroro-Maunori (Keo Tengah) – Raja (Boawae) sangat memprihatinkan. Jalur antar lintas ketiga kecamatan ini kian hari, kian buruk dan bahkan kian terpuruk semenjak awal dirintis oleh pendahulu kita.

Kondisi jalan yang rusak dan bahkan belum tersentuh penanganan serius oleh pemerintah Nagekeo, menambah daftar panjang penderitaan masyarakat pesisir selatan. Kondisi ini pula diperparah dengan pengerjaan asal-asalan yang nota bene tambal sulam, jauh ditinjau dari aspek keselamatan dan kenyamanan, terkesan tidak adanya keseriusan perhatian ekstra dari pemerintah.

Jalan yang merupakan pemersatu antar suku dan budaya, kini belum terjawab seutuhnya, akibatnya lalu lintas sebagai pendongkrak ekonomi rakyat terkesan carut-marut,tidak ada perubahan dan kemajuan, mandek dan berjalan di tempat.

Trans selatan Nagekeo ini, yang merupakan warisan penjajah, hingga kini tidak ada perubahan yang signifikan, pemerintah dinilai lamban menanganinya. Pembangunan beberapa periode digelontorkan, semenjak kabupaten Nagekeo dimekarkan dari kabupaten induk, kabupaten Ngada, dan telah beberapa kali Kepala Daerah Tingkat II digantikan, pembangunan desentralisasi di Nagekeo bagian utara.

Kesetaraan dan pemerataan akan pembangunan pun, belum terbias nyata ke segala sektor di Nagekeo, tak terlepas pula di wilayah Nagekeo selatan. Hal ini yang akan menjadi dasar pertanyaan dan refleksi bathin pemerintah kita atas janji manis yang telah dikumandangkan pada kampanye menjelang pilkada silam. Lantaran, telah lama rakyatmu menanti janji, telah lama pula rakyatmu menunggu hasil, kapan terwujud dan direalisasikan. Entah kapan penantian panjang ini akan berakhir?

Dari pantauan penulis yang sering melintasi jalur ini, memaksa pemerintah untuk segera menindaklanjutinya. Ini bentuk keprihatinan yang tak berujung akan kondisi jalan yang kurang layak,pun keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan terabaikan. Bila kita susuri sepanjang jalur lintas pantai selatan dari Nangaroro ke arah Maunori, hingga Kota Keo sampai persimpangan pasar Raja, ataupun sebaliknya, akan kita jumpai ada beberapa titik rawan yang perlu penanganan serius.

Dari hasil jajakan kaki, penulis ingin menceritakan dari beberapa titik rawan yang pernah ditelusuri,yang disinyalir rawan kecelakaan dan mengancam keselamatan.
Pertama. Di jalan tanjakan dan tikungan Ae Bajo, kampung Bhondo, desa Woewutu, kecamatan Nangaroro, pada titik ini, dari kedua arah terkesan rawan kecelakaan dan terkadang kendaraan roda empat terperosok dan bahkan kendaraan roda dua sering terjungkal karena licin (tanah merah) saat musim penghujan tiba. Perlu segera ditindaklanjuti dan ditangani oleh instansi terkait,dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Nagekeo, Bidang Bina Marga, segera menyikapinya.

Kedua. Titik rawan berbahaya dan sempit Besi Mele, dekat kampung Ma’uliti, desa Tonggo, kecamatan Nangaroro, dan sangat mengundang maut. Jalan sempit dengan himpitan tebing cadas yang sangat menantang maut juga tikungan pendek penghalau pandangan, riskan bagi pengendara dari kedua arah.

Jalur tengkorak ini sangat membahayakan pengendara bila kurang berwaspada,jurang dalam menanti di sana. Lokasi ini dibangun sejak tahun 1973 dan kelanjutan pengerjaannya hingga di Dowo Dambe, di akhir tahun 1970-an oleh kontraktor pelaksana Filma (Fa) Rada Wea, Bajawa, hingga kini masih terbengkalai, tidak ada kelanjutannya.

Ketiga. Masuk wilayah desa Podenura, sungai (kali mati) Dowo Sude, sangat ditakuti masyarakat ketika musim penghujan tiba. Jalan yang dibangun seadanya melintasi Kali Dowo Sude, sebagai pemersatu dan antar lintas kedua kecamatan ini harus segera diprioritaskan.

Teringat di tahun 1996 silam, prahara menerjang Kali Dowo Sude. Banjir bandang telah melanda dan meluluhlantakan serta memporakporandakan segala hasil bumi, ternak, pasar, sekolah, mess guru, poliklinik, lapangan bola, pemukiman dekat bantaran kali, juga jalan, sarana penghubung alternatif antar kampung pun tergerus dan hanyut ke laut.

Segala material, batu, pasir, pepohonan tak luput dari amukan air bah kala itu. Setelah peristiwa memilukan itu, dan kini tinggalkan kenangan pahit, traumatis masih membekas di sanubari masyarakat Podenura juga kampung tetangganya.

Sepanjang mata memandang,terlihat onggokan dan hamparan batu menebar di mana-mana. Jika masuk musim penghujan seperti sekarang, dan jika hujan dengan intensitas tinggi di hulu, rasa kekhawatiran dan rasa takut menyelimuti masyarakat kita akan pristiwa serupa kembali terulang.

Hal ini yang menjadi pekerjaan rumah (PR), bagi aparat desa dan masyarakat untuk kembali mereboisasi hutan yang telah gundul dan rusak di bawah kaki gunung (Kedi) Koto dan Kedi Reo dan sepanjang aliran sungai, akibat keserakahan manusia.

Keempat. Tanjung mitos Po Penga, Ngadu Tangi, desa Kotodirumali, kecamatan Keo Tengah, tempat ini sering diselimuti ketakutan bagi mereka yang sesekali menempuh jalur ini. Jalan lumayan bagus, karena dibantu tembok penyokong dari bibir pantai. Hanya saja perlu pelebaran dan pengerukan tebing, agar pengguna jalan tidak terasa was-was dari longsoran ketika musim penghujan tiba, hingga ke Watu Wawi.

Kelima. Tikungan pendek menantang maut Watu Kembi, sebelah timur kampung Keka Kodo, desa Kotodirumali, kecamatan Keo Tengah, juga sangat beresiko tinggi dan butuh berkonsentrasi penuh serta berhati-hati bagi kendaraan roda empat atau lebih, karena harus melalui dua tikungan pendek menikuk tajam, pada titik ini karena adanya lidah batu cadas tebing yang menjulur, sehingga sedikit menyulitkan kendaraan roda empat atau lebih memacu kecepatan.

Jangan lengah lalui titik ini, setiap saat maut dan jurang dalam mengancam. Jalur lintas sebaliknya pun akan kita jumpai kondisi serupa. Contoh nyatanya,dari pertigaan pasar Raja hingga ke Maunori, jalan beraspal banyak pecah dan rusak, sana sini jalan berlubang.

Sangat membahayakan pengendara, khususnya roda dua bila melintasi pada malam hari. Tidak ada penerangan jalan di tempat yang berpotensi rawan kecelakaan. Tak ada pula drainase di sisi jalan. Badan jalan kurang lebar alias sempit, sehingga sangat menyulitkan para pengemudi kendaraan roda empat atau lebih bila berpapasan.

Banyak tanjakan dan tikungan pendek, menurun tajam, bahkan tidak ada pengaman sejenis pagar terbuat dari besi, yang dipasang di sisi jalan yang dianggap rawan kecelakaan, sebagai pengingat pengguna jalan agar selalu berhati-hati dan waspada, karena setiap saat maut mengancam.

Terlebih di beberapa tempat (menurut orang kita), dianggap mistis dan angker, hal inilah yang dikaitkan penyebab utama kecelakaan. Ingatkah kita akan tragedi maut yang merenggut sebelas korban jiwa di Iru Eti beberapa tahun silam, saat sebuah mobil (bus kayu) terjungkal bebas masuk jurang? Akankah prahara ini kembali terulang? Haruskah kita menunggu akan bertambahnya korban jiwa dari kelalaian wakil rakyat kita? Padahal jalur selatan Nagekeo ini sering dilintasi petinggi-petinggi pemerintahan kita, dengan kendaraan berplat merah.

Pertanyaannya. Kemanakah nurani mereka saat menerjang jalan berlumpur dan berbatu? Kemanakah dana pajak tiap tahun yang dihimpun dari rakyat? Konon,pernah didengungkan pemerintah sekarang, jalur transportasi darat selatan Nagekeo adalah jalan provinsi yang harus segera dibangun.

Lantaran, wilayah selatan Nagekeo ini,daerah berpotensi dengan komoditi melimpah penunjang ekonomi Nagekeo, bahkan diekspor antar pulau dan antar provinsi. Ini potret realita akan kesedihan, kita hidup di era kemerdekaan, di mana sudah tujuh puluh tahun Indonesia, dari sisi kemajuan dan teknologi pun, kita sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan saudara-saudara kita di Indonesia lainnya seperti: Pertama, Jalur Transportasi Darat (Jalan Raya). Kedua, Penerangan (PLN). Ketiga, Telekomunikasi (Tower BTS).

Kita masih terkungkung akan keterbelakangan atas kemajuan di segala sektor pembangunan. Inilah yang menjadi dasar dan tolak ukur wakil rakyat kita, lebih getol lagi memperjuangkan aspirasi rakyatnya.

Sebagai pemimpin dan wakil rakyat, lantangkan suaramu demi Nagekeo ke depan. Kami sebagai masyarakat dan rakyatmu ingin buktikan peran anda akan janji kampanye yang membius. Jangan jadikan kampanye dengan manisnya janji, retorika, basa-basi, yang kini jadi teka-teki?

Untuk dikaji. Di pesisir selatan Nagekeo ini, terbentang dari Nangaroro hingga Keo Tengah, meskipun kontur tanahnya yang tidak merata dengan punggung bukit yang banyak, sejatinya di kawasan selatan Nagekeo ini, harus ditata dan dikelola dengan nilai estetika yang baik, sehingga akan menjadi salah satu destinasi dan nilai tambah bagi penduduknya, juga tentunya ini akan mendatangkan devisa serta menjadi daya tarik obyek wisata bagi pelancong yang datang ke wilayah ini.

Pantai selatan dengan teluk dan tanjung yang indah, hamparan luas laut membentang biru nan bersih, panorama alamnya yang asri, sungguh memukau dan menakjubkan, masih perawan dan belum terjamah tangan.

Jangan lupakan teluk Nangaroro hingga ke pesisir barat pantai Kampung Baru, dengan pasir hitam berkilau membentang, selalu siap menyapa pengunjung yang datang menikmati gulung dan derunya ombak akan hangatnya laut di pagi hari, siang ataupun senja hari.

Deretan nyiur melambai-lambai sepanjang pantai, pertanda senang menyapa akan pengunjung yang datang untuk bersantai-ria, bercengkarama bersama keluarga sambil menikmati indahnya alam pantai. Karena seminggu penuh telah direpotkan dengan kesibukan dan kepenatan, sewajarnya kita sempatkan diri ke sana, tempat rekreasi favorit, rekreasi dambaan bagi keluarga, yang ingin menikmati suasana alam pantai dengan udara bersih tanpa polusi.

Beruntung lagi,bagi mereka yang berhoby memancing. Hanya sayang, belum ada yang melirik akan beberapa tempat rekreasi yang penuh menjanjikan ini. Ini yang menjadi dorongan akan pemikiran cerdas dan obyektif, terlebih kepada generasi muda Nagekeo yang terdorong dengan etos membangun serta dedikasi yang tinggi, untuk bersama membangun Nagekeo ke depan.

Jadikan panorama alam pantai selatan dalam event pariwisata Nagekeo, sebagai ajang promosi di tingkat nasional maupun internasional. Sebagai generasi yang peduli dan kecintaan akan Nagekeo, kami bangga dan terus berkarya demi Nagekeo di masa datang. Semoga...

Written by : Nagekeo Bersatu ~ Berita Online Nagekeo

Anda sedang membaca sebuah artikel yang berjudul MENEROPONG TRANS SELATAN NAGEKEO, MEMPRIHATINKAN,, Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda . Anda boleh menyebar luaskannya atau Mengcopy Paste-nya jika Artikel MENEROPONG TRANS SELATAN NAGEKEO, MEMPRIHATINKAN ini sangat bermanfaat bagi Blog dan teman-teman Anda, Namun jangan lupa untuk Meletakkan link MENEROPONG TRANS SELATAN NAGEKEO, MEMPRIHATINKAN sebagai sumbernya.

Join Us On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Thank you for Visiting ! ::

Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 10:05 AM
Share this post :

+ comments + 1 comments

February 22, 2018 at 10:27 AM

Ijin share ya

Post a Comment

Note :

1. Berikan komentar Anda yang sesuai dengan isi artikel
2. Berkomentarlah dengan bijak
3. Mohon untuk tidak melakukan SPAM

Semoga Jaringan kita terus terjalin dengan saling berbagi informasi

Regards,
Nagekeo Pos

 
Admin: Hans Obor | Mozalucky | Nagekeo Bersatu
Copyright © 2013. NAGEKEO POS - All Rights Reserved
Thanks To Creating Website Modify and Used by Nagekeo Bersatu
Proudly powered by Blogger