From World for Nagekeo
Headlines News :
Home » » ORANG YANG TIDAK PUNYA RESPEK AKAN JADI RACUN BAGI SESAMA

ORANG YANG TIDAK PUNYA RESPEK AKAN JADI RACUN BAGI SESAMA

Written By Nagekeo Bersatu on Monday, January 20, 2014 | 6:48 PM

SHARING NATAL NAGEKEO BERSATU:


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Setiap orang tentu ingin dihargai. Problemnya adalah semakin banyak manusia belakangan ini sulit sekali menghargai sesamanya. Apa lacur?

Sebuah situs (http://pargodungan.org) menulis begini. Dewasa ini, manusia biasanya menghargai sesuatu berdasarkan apa yang bisa dilakukannya atau berdasarkan kegunaannya (pragmatis).

Dalam hubungan antar pribadi pun hal yang sama berlaku. Seseorang biasanya dihargai berdasarkan pencapaian yang ia usahakan. Apresiasi, promosi, atau kenaikan jabatan hanya diberikan kalau seseorang mencapai hal yang luar biasa.

Dengan demikian, cara manusia menghargai sesamanya mulai bergeser. Seseorang manusia dihargai bukan karena ia seorang manusia. Tapi seseorang dihargai kalau ia telah menjadi ‘seseorang’.

Itulah sebabnya tidak mustahil kalau ketidakadilan akan semakin besar. Jika penghargaan diberi pada ‘orang-orang tertentu yang layak’ bagaimana dengan nasib ‘orang-orang lain yang tidak layak’. Jika penghargaan diberikan kepada mereka yang berbahagia, bagaimana nasib ‘yang lain yang menderita’ (meniru ungkapan Paul F. Knitter).

Dalam sebuah sharing di acara Natal & Tahun Baru Bersama keluarga besar Nagekeo Bersatu (grup facebook) pada 10 Januari 2014 di aula anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta), Primus Dorimulu, tokoh Nagekeo di Jakarta dan tokoh media nasional paling populer, menegaskan kembali poin ini.

Katanya, orang yang tidak respek (baca: tidak punya sikap menghargai sesama) akan menjadi racun bagi sesama di mana mereka berada, di rumah, di tempat kerja, dan di berbagai pertemuan.

Menurut Profesor Howard Gardner, Ahli Psikologi dan Pendidikan dari Universitas Harvard, demikian Primus Dorimulu mengutip, sikap menghargai sesama adalah satu dari lima kecerdasan untuk mencapai sukses di masa akan datang.

Gardner menggambarkan sikap ini sebagai the respectful mind, yakni kemampuan untuk merespons dengan simpatik dan konstruktif terhadap sesama, baik dengan orang segrup maupun dengan kalangan lain. Mereka memiliki kecerdasan untuk hidup bersama orang lain dengan damai, menerima perbedaan, penuh pengertian, dan memperlakukan setiap orang dengan penuh hormat.

Sementara 4 kecerdasan lainnya; Pertama, Disciplined Mind - menguasai bidang ilmu dan keterampilan tertentu. Kedua, Synthesising Mind - kecerdasan untuk mengintegrasikan pemikiran dari berbagai disiplin ilmu dan keahlian.

Ketiga, Creating Mind - kecerdasan untuk menyingkap sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui, mengklarifikasi berbagai masalah, terutama persoalan baru yang ditemui, dan berusaha menemukan jawaban dari setiap fenomena.

Dan keempat, Ethical Mind - kecerdasan dalam mengimplementasikan nilai moral dan berbagai aturan dengan penuh tanggung jawab.

Kelima kecerdasan ini, menurut Gardner, membantu dan menjamin generasi untuk sukses mengarungi masa depan yang kian kompleks.

Primus Dorimulu, juga sang motivator, berbagi banyak poin penting menuju keberhasilan dari pengalaman pribadinya.

Setidaknya, putra kelahiran Wekaseko, Nagekeo ini telah mencapai puncak karir dalam profesinya sebagai jurnalis (wartawan). Selain tampil sebagai pemimpin redaksi (pemred) di beberapa media mainstream di Jakarta, Primus juga menjadi direktur di sebuah perusahaan.

Hampir 80% bahan sharing di malam pesta Natal dan Tahun Baru itu merupakan bagian dari pengalaman pribadi alumnus STKIP Ruteng dan IISIP Jakarta ini. Primus juga pernah mengambil program belajar Wealth Manager di Universitas Erasmus dan UGM.

Apa saja yang ditambahkan Primus dari konsep kecerdasan ala Gardner?

Menurutnya, setiap orang minimal harus memiliki satu keahlian agar bisa hidup normal dan meraih sukses (dicipline mind). Tanpa kecerdasan, seseorang boleh saja dibanjiri informasi, tapi tidak mampu mengambil keputusan bijak (Synthesising Mind).

Primus menambahkan, manusia yang tidak memiliki kreativitas akan digantikan oleh komputer dan tercampak dari persaingan (Creating Mind).

Kemudian, tanpa nilai etika, orang akan menjadi perusak. Tanpa moral, orang yang cerdas secara intelektual dan kreatif hanya akan menjadi penghancur bagi sesama (Ethical Mind).

Dalam realita hidup belakangan ini, lanjut Primus, banyak orang pintar gagal meraih karir yang baik, bahkan gagal dalam hidup karena tidak memiliki karakter baik (solid character). Mereka gagal karena, mungkin, tidak sabar, tidak sopan, tidak memiliki tekad yang kuat, dsb.

Life learning juga bagian dari pilar menuju kesuksesan. Waktu dan usia tidak bisa didaur ulang. Sekali lewat, waktu tidak bisa kita kembalikan. Kita juga tidak bisa mengembalikan usia. Semakin hari kita semakin tua. Karena itu, gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan bekerja. Gunakan waktu senggang untuk membaca buku, menghadiri seminar, dan diskusi bermutu. Bukalah wawasan dengan belajar, terutama dari orang sukses.

Demikian Primus berbagi kali ini, di waktu yang akan datang warga NB mendapat kesempatan mendapat sharing bermutu dari para senior yang lain.

Dunia Maya vs Dunia Nyata

Dunia maya (dumay) selalu punya dinamika lebih hebat dan menghebohkan. Interaksi dumay jauh lebih berwarna karena menghimpun beragam manusia dan obsesi gilanya. Tulisan di dumay menjadi satu-satunya kekuatan yang diandalkan untuk mempengaruhi bahkan mendoktrin pemikiran pembaca.

Tentu beda dinamika ketika kita bertemu di dunia nyata. Senyum, jabat tangan, sapaan, tatapan mata membuat kita sulit menyembunyikan pikiran dan kemauan hati kita. Kita cenderung bersahabat (manusiawi).

Ibu Yohana Fransiska, Ketua Panitia acara Natal & Tahun Baru Bersama keluarga NB di Jakarta, menyapa seluruh anggota NB sambil menegaskan satu hal ini.

"Puji syukur kepada Tuhan, malam ini kita boleh bertemu dan berkumpul di tempat yang nyaman ini walaupun sebelumnya melewati perjalanan yang melelahkan. Ada yang dari kantor, ada yang dari rumah, bahkan ada yang datang dari kota lain. Semuanya itu karena satu tujuan, INGIN BERTEMU DI DUNIA NYATA."

Selama ini kita bertemu, saling menyapa, saling berkomunikasi melalui dunia maya, melalui komentar dan like-like tunjuk jempol. Malam ini kita bisa bertatapan wajah, berjabatan tangan dan berpelukan dalam dunia nyata, demikian ibu Ketua Panitia mengawali sambutannya penuh semangat.

Florasta Indonesia dan Hangagadu Record

Acara kedua warga NB di Jakarta ini, pertama digelar Januari 2012, terasa sangat spesial karena didukung oleh Florasta Indonesia, event organizer milik MC berbakat George Soge Soo dan rumah produksi Hangagadu Record milik Fransiskus Dorelagu, tokoh muda dan pemerhati budaya kelahiran Watuneso, Ende.

Menu yang ditampilkan (round down acara) begitu variatif dan atraktif, sementara suasana atau horison malam itu berwarna dan sangat memukau.

Gemerlap busana pesta (motif Nagekeo) dan spotlighting direkam dengan sempurna oleh kamera dari Hangagadu Record. Sebuah kolaborasi yang sukses membentuk memori indah dari taman mini yang indah.

Florasta Indonesia juga menghadirkan anggota NB di luar negeri untuk menyaksikan acara pesta, menggunakan teknologi Skype dan siaran langsung oleh radio streaming Pendugu. Bung Giorgio Babo Mogi dari kota Townsville, Australia dan bung Julius Lakiwoa dari Jepang muncul di layar besar Skype, dengan ekspresi wajah yang cemburu karena Admin NB terlampau menguasai panggung malam itu.

Malam itu benar benar sangat spesial oleh hadirnya orang-orang spesial. Sebut saja, Ivan (Embun) Nestroman, penyanyi ternama asal Manggarai Flores yang punya istri cantik asal Nagekeo. Bung Ivan, lewat lagu Mogi e sukses menghadirkan suasana puncak bagi anggota NB dalam pertemuan di anjungan NTT itu.

Rekan-rekan dari Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Nagekeo (Himappen) Jabodetabek memberi kesan pertama yang hebat untuk segmen tarik suara melalui lagu Holy Night.

Bung Tobby Ndiwa, musisi dan penyanyi berbakat, yang juga konsultan hukum, tampil solo dengan lagu pembuka yang memukau dan mengundang decak kagum dari artis dan politisi Charles Bonar Sirait.

Fransiska Bura Rossy juga memberi warna dengan lagu berjudul Fusu Bugu karya Kolonel Epi Embu Agapitus. Tidak ketinggalan Alfredo Jose de Woi Wuda dan Leonardo Charismatika Dorelagu, artis penyanyi dari SD Mardiyuana Depok, Jawa Barat tampil energik dengan tembang Beta So Rindu karya Fransiskus Dorelagu, produser musik Hangagadu Record.

Turut mengisi acara dengan penampilan vokal adalah Inyo Nabu, Valens Daki-Soo, Primus Dorimulu, dan Valentinus Jandut.


Turut mendukung acara:

PT Veritas Dharma Setya (VDS)
Primus Dorimulu
Epi Embu Agapitus
William Yani (Nuwa Wea)
Vitalis Ranggawea
Yosef Djuwa Dobe Ngole
Abraham Rungamali
Sandy Romualdus
Emmanuel Billy
Kayetanus Feto
Aristo Yanuarius Seda
Romanus Muda Kota
Alfonsius Atu Kota
Ignasius Sape Kota
Benny Daga
Alamsyah Pua Saba
Adrianus Patiwea
Yohana Fransiska
Florentina Mogi
Sisilia Florentina Kita
Peppy Wuda
Silvia Sea
Prita Bisara
Keluarga Nagekeo Cikarang
Nusrin Daga
Mario Benedicto Hanu
Berto Du'e
Vian



Written by : Nagekeo Bersatu ~ Berita Online Nagekeo

Anda sedang membaca sebuah artikel yang berjudul ORANG YANG TIDAK PUNYA RESPEK AKAN JADI RACUN BAGI SESAMA,, Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda . Anda boleh menyebar luaskannya atau Mengcopy Paste-nya jika Artikel ORANG YANG TIDAK PUNYA RESPEK AKAN JADI RACUN BAGI SESAMA ini sangat bermanfaat bagi Blog dan teman-teman Anda, Namun jangan lupa untuk Meletakkan link ORANG YANG TIDAK PUNYA RESPEK AKAN JADI RACUN BAGI SESAMA sebagai sumbernya.

Join Us On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Thank you for Visiting ! ::

Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 6:48 PM
Share this post :

Post a Comment

Note :

1. Berikan komentar Anda yang sesuai dengan isi artikel
2. Berkomentarlah dengan bijak
3. Mohon untuk tidak melakukan SPAM

Semoga Jaringan kita terus terjalin dengan saling berbagi informasi

Regards,
Nagekeo Pos

 
Admin: Hans Obor | Mozalucky | Nagekeo Bersatu
Copyright © 2013. NAGEKEO POS - All Rights Reserved
Thanks To Creating Website Modify and Used by Nagekeo Bersatu
Proudly powered by Blogger