From World for Nagekeo
Headlines News :
Bonie AC Advertise
Support Us With Your Advertise
Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Bupati Elias Djo: Generasi Muda Katolik (OMK) Harus Sekolah dan Bekerja


DEPOK (Nagekeo Pos) - Menyadari jika generasi muda Katolik di era jaman ini tidaklah mudah untuk hidup, Bupati Elias Djo berharap agar generasi muda Katolik tetap fokus dan utamakan sekolah dan bekerja, meski aktif dalam kegiatan organisasi orang muda Katolik (OMK) juga kegiatan gereja dan rohani.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 11:25 PM

Bupati Elias Djo: Pemuda Katolik untuk Gereja dan Tanah Air


Kunjungan Mahasiswa Katolik Dunia

DEPOK (Nagekeo Pos) - Pro Ecclesia Et Patria, untuk Gereja dan Tanah Air. Kalimat ini diartikulasi kembali oleh Bupati Nagekeo Elias Djo saat menerima kunjungan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Internasional (International Movement of Catholic Students/IMCS Pax Romana) pada 14 Juli 2017 di Mbay.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 11:20 PM

Gereja Ritti: Mereka yang memberi (foto Emmanuel Billy)



Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 12:49 PM

Gereja Ritti: Paskah Bersama 2015 Jabodetabek (karya Emmanuel Billy)

Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 5:44 PM

Gereja Ritti: Mereka yang memberi

JAKARTA (Nagekeo Pos) - Jenderal Gories Mere, putra terbaik dari Ritti, Nangaroro, sekaligus penggagas kegiatan penggalangan dana bagi pembangunan (renovasi) Gereja Kristus Raja di Ritti, turut memberi sumbangan sebesar Rp100 juta.

Penggalangan dana ini dilakukan saat keluarga besar Nangaroro dan Keo Tengah, dua kecamatan di wilayah selatan kabupaten Nagekeo ini, mengadakan Pesta Paskah Bersama Keluarga Besar Nangaroro-Keo Tengah se-Jabodetabek pada Sabtu lalu (2 Mei).

Gereja Kristus Raja Ritti adalah salah satu gereja tertua di Flores yang telah berusia 46 tahun. Bangunan gereja ini mengalami banyak kerusakan akibat gempa bumi medio 1992.

Ketua Panitia Paskah Bersama, Konradus Wawo, politisi potensial NTT di Jakarta, memberi apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua undangan yang telah menyumbang uang secara sukarela dan sukacita pada acara Penggalangan Dana usai Misa Paskah di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah itu.

Selain Jenderal Gories Mere yang aktif memberi sumbangsih (pikiran, moril, finansial) bagi pembangunan kehidupan ekonomi, sosial dan keagamaan bagi masyarakat Flores dan NTT, politisi dan pengusaha muda, Valens Daki-Soo, pemilik perusahaan jasa konsultan PT Veritas Dharma Satya (VDS) juga turut menyumbang dana sebesar Rp50 juta untuk Gereja Ritti.

Ikut menyumbang dengan memenangkan sesi lelang bingkai cantik dan produk budaya karya George Soge Soo adalah Wiliam Yani Wea (Wily) (Rp17 juta), Yoseph Araoudji (Rp15 juta), Andreas Parera (Rp15 juta) dan Damian Bilo (Rp13 juta).

Sementara penyumbang dana yang memenangkan lelang "Lipe" (gabha) atau tas gantung nagekeo adalah Bertoldus Lalo, Valens Daki Soo, Rafael Ole dari Nuasbosi Ende dengan nominal Rp1 juta masing-masing.

Yang memenangkan lelang lipe/gabha dengan nominal Rp500 ribu adalah Yosef Juwa Dobe Ngole, Romo Ronny Netowuli, Pr, Aristo Yanuarius Seda, dan Yoseph Leleputra dari Ende.

Secara total, jumlah dana yang dihimpun mencapai sebesar Rp275 juta bagi pembangunan Gereja Kristus Raja di Ritti, Nangaroro.

"Terima kasih buat para donatur dan dermawan...upahmu besar di Surga...Tuhan maha baik," ujar juru lelang Bernadus Yohannes Raldy Doy, tokoh media nasional yang inspiring dan menaruh perhatian pada politik ini.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 8:40 PM

Gereja Ritti: Marselinus Ado Wawo & Rp275 Juta Dana


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Keluarga besar kecamatan Nangaroro dan Keo Tengah se-Jabodetabek, beserta undangan yang hadir, pada Sabtu (2 Mei 2015) berhasil menghimpun dana sebesar Rp275 juta bagi pembangunan Gereja Kristus Raja di Ritti, Nangaroro.

Gereja Kristus Raja Ritti adalah salah satu gereja tertua di Flores yang telah berusia 46 tahun. Bangunan gereja ini mengalami banyak kerusakan akibat gempa bumi medio 1992.

Marselinus Ado Wawo, tokoh NTT di Jakarta, yang juga putra kelahiran Ritti-Nangaroro, Nagekeo, Flores ini, mendapat mandat sebagai Ketua Penggalangan Dana.

Memanfaatkan momen Paskah, Keluarga Nangaroro dan Keo Tengah sukses merayakan Paskah Bersama 2015 di Anjungan NTT tadi malam, media terbaik menghimpun keluarga kedua kecamatan ini se-Jabodetabek dalam menggalang dana bagi pembangunan Gereja di Ritti.

Menurut Marselinus Ado Wawo, penggalangan dana ini digagas oleh Jenderal Gories Mere yang juga putra terbaik dari Ritti, Nangaroro.

"Jenderal Gories yang menggagas acara ini karena terketuk hati untuk mengajak seluruh keluarga Ritti, Nangaroro, Keo Tengah, di Jabodetabek ambil bagian dalam karya pembangunan gereja di Ritti," ujar Marselinus Ado Wawo dalam sambutannya.

"Banyak sekali saudara-saudara kita yang berkehendak baik untuk ikut menyumbang karena itu kami siapkan 1,000 amplop," kata Marselinus.

Perjuangan umat di Ritti luar biasa besar karena salib (beban) mereka berat sekali, kita warga Nagekeo Diaspora ikut membantu meringankan beban umat di Ritti, ujar Marselinus kepada Redaksi Nagekeo Pos.

Pastor Paroki Ritti, Romo Paulus Sabu Demu, Pr, mengatakan pembangunan (renovasi) Gereja Kristus Raja Ritti membutuhkan biaya sebesar Rp2 milyar, sementara umat Paroki Ritti telah menghimpun dana sebesar Rp700 juta.

Romo Ronny Netowulli, Pr, Pastor Paroki Ritti periode 1998-2001, juga sangat apresiatif dan bangga pada umat Paroki Ritti yang memiliki spirit perjuangan dan etos kerja.

Umat Ritti dan Tonggo, bergandengan tangan dengan keluarga Muslim dan tokoh Muslim Husen Dhai Pape, berhasil membangun jalan raya hingga menembus Gereja Kristus Raja pada masa Romo Ronny berkarya di sana.

"Jalan raya itu akhirnya membebaskan orang Ritti Tonggo dari keterisolasian dan ekonomipun mulai bertumbuh," ujar Romo Ronny saat memberi Kotbah pada Misa Paskah Bersama tadi malam.

Misa Paskah dengan tema Tiada Kasih Tanpa Peduli itu berlangsung sangat meriah dengan empat Imam Konselebran, Romo Edu Dopo SJ, Rommo Ronny, Romo Paulus, dan Romo Paulinus Kanisius Ndoa, Pr, didukung tarian dari Sanggar Kotakeo, Bhea Sa oleh Abraham Runga Mali, dan Koor Gabungan dengan lagu-lagu gubahan Piet Wani.

Florasta Indonesia, Pendugu, Kantor Perwakilan NTT Jakarta, dan Pengelola Taman Mini Indonesia Indah turut mendukung acara ini. Tanggung jawab ketua panitia untuk acara ini dilakoni dengan sangat baik oleh Konradus Wawo, salah satu toko muda potensial NTT di Jakarta.

Juru Lelang & Karya Budaya George Soge Soo

Selain donasi dari Jenderal Gories Mere dan sumbangan 1000 amplop dari para undangan dan keluarga besar Flores di Jakarta, juru lelang, Bernadus Yohannes Raldy Doy, sangat maksimal meraup dana sekitar Rp73 juta melalui lelang produk cantik bernuansa budaya dan religi karya George Soge Soo, musisi dan budayawan NTT, yang juga pemilik Florasta Indonesia dan Pendugu.

Tobby Ndiwa, musisi populer asal NTT ini, didukung George Soge Soo dan Yanto (penyanyi berbakat dari Maumere), menghibur sekitar 700 undangan yang hadir dan berjubel di pelataran anjungan NTT Taman Mini dengan lagu-lagu paling hits bernuansa NTT hingga menjelang pagi.

Ibu Tris, istri Marselinus Ado Wawo, dan ibu Este Liebe juga tak kalah hebat memnghadirkan suguhan menu makan pesta ala NTT. Sementara momen-momen terindah direkam sangat detil oleh juru potret handal, Emmanuel Billy, Alamsyah Puasaba, dan Yulius Kota Hallo.

UBI CARITAS EST VERA DEUS IBI EST
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 12:10 AM

ORANG YANG TIDAK PUNYA RESPEK AKAN JADI RACUN BAGI SESAMA

SHARING NATAL NAGEKEO BERSATU:


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Setiap orang tentu ingin dihargai. Problemnya adalah semakin banyak manusia belakangan ini sulit sekali menghargai sesamanya. Apa lacur?

Sebuah situs (http://pargodungan.org) menulis begini. Dewasa ini, manusia biasanya menghargai sesuatu berdasarkan apa yang bisa dilakukannya atau berdasarkan kegunaannya (pragmatis).

Dalam hubungan antar pribadi pun hal yang sama berlaku. Seseorang biasanya dihargai berdasarkan pencapaian yang ia usahakan. Apresiasi, promosi, atau kenaikan jabatan hanya diberikan kalau seseorang mencapai hal yang luar biasa.

Dengan demikian, cara manusia menghargai sesamanya mulai bergeser. Seseorang manusia dihargai bukan karena ia seorang manusia. Tapi seseorang dihargai kalau ia telah menjadi ‘seseorang’.

Itulah sebabnya tidak mustahil kalau ketidakadilan akan semakin besar. Jika penghargaan diberi pada ‘orang-orang tertentu yang layak’ bagaimana dengan nasib ‘orang-orang lain yang tidak layak’. Jika penghargaan diberikan kepada mereka yang berbahagia, bagaimana nasib ‘yang lain yang menderita’ (meniru ungkapan Paul F. Knitter).

Dalam sebuah sharing di acara Natal & Tahun Baru Bersama keluarga besar Nagekeo Bersatu (grup facebook) pada 10 Januari 2014 di aula anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta), Primus Dorimulu, tokoh Nagekeo di Jakarta dan tokoh media nasional paling populer, menegaskan kembali poin ini.

Katanya, orang yang tidak respek (baca: tidak punya sikap menghargai sesama) akan menjadi racun bagi sesama di mana mereka berada, di rumah, di tempat kerja, dan di berbagai pertemuan.

Menurut Profesor Howard Gardner, Ahli Psikologi dan Pendidikan dari Universitas Harvard, demikian Primus Dorimulu mengutip, sikap menghargai sesama adalah satu dari lima kecerdasan untuk mencapai sukses di masa akan datang.

Gardner menggambarkan sikap ini sebagai the respectful mind, yakni kemampuan untuk merespons dengan simpatik dan konstruktif terhadap sesama, baik dengan orang segrup maupun dengan kalangan lain. Mereka memiliki kecerdasan untuk hidup bersama orang lain dengan damai, menerima perbedaan, penuh pengertian, dan memperlakukan setiap orang dengan penuh hormat.

Sementara 4 kecerdasan lainnya; Pertama, Disciplined Mind - menguasai bidang ilmu dan keterampilan tertentu. Kedua, Synthesising Mind - kecerdasan untuk mengintegrasikan pemikiran dari berbagai disiplin ilmu dan keahlian.

Ketiga, Creating Mind - kecerdasan untuk menyingkap sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui, mengklarifikasi berbagai masalah, terutama persoalan baru yang ditemui, dan berusaha menemukan jawaban dari setiap fenomena.

Dan keempat, Ethical Mind - kecerdasan dalam mengimplementasikan nilai moral dan berbagai aturan dengan penuh tanggung jawab.

Kelima kecerdasan ini, menurut Gardner, membantu dan menjamin generasi untuk sukses mengarungi masa depan yang kian kompleks.

Primus Dorimulu, juga sang motivator, berbagi banyak poin penting menuju keberhasilan dari pengalaman pribadinya.

Setidaknya, putra kelahiran Wekaseko, Nagekeo ini telah mencapai puncak karir dalam profesinya sebagai jurnalis (wartawan). Selain tampil sebagai pemimpin redaksi (pemred) di beberapa media mainstream di Jakarta, Primus juga menjadi direktur di sebuah perusahaan.

Hampir 80% bahan sharing di malam pesta Natal dan Tahun Baru itu merupakan bagian dari pengalaman pribadi alumnus STKIP Ruteng dan IISIP Jakarta ini. Primus juga pernah mengambil program belajar Wealth Manager di Universitas Erasmus dan UGM.

Apa saja yang ditambahkan Primus dari konsep kecerdasan ala Gardner?

Menurutnya, setiap orang minimal harus memiliki satu keahlian agar bisa hidup normal dan meraih sukses (dicipline mind). Tanpa kecerdasan, seseorang boleh saja dibanjiri informasi, tapi tidak mampu mengambil keputusan bijak (Synthesising Mind).

Primus menambahkan, manusia yang tidak memiliki kreativitas akan digantikan oleh komputer dan tercampak dari persaingan (Creating Mind).

Kemudian, tanpa nilai etika, orang akan menjadi perusak. Tanpa moral, orang yang cerdas secara intelektual dan kreatif hanya akan menjadi penghancur bagi sesama (Ethical Mind).

Dalam realita hidup belakangan ini, lanjut Primus, banyak orang pintar gagal meraih karir yang baik, bahkan gagal dalam hidup karena tidak memiliki karakter baik (solid character). Mereka gagal karena, mungkin, tidak sabar, tidak sopan, tidak memiliki tekad yang kuat, dsb.

Life learning juga bagian dari pilar menuju kesuksesan. Waktu dan usia tidak bisa didaur ulang. Sekali lewat, waktu tidak bisa kita kembalikan. Kita juga tidak bisa mengembalikan usia. Semakin hari kita semakin tua. Karena itu, gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan bekerja. Gunakan waktu senggang untuk membaca buku, menghadiri seminar, dan diskusi bermutu. Bukalah wawasan dengan belajar, terutama dari orang sukses.

Demikian Primus berbagi kali ini, di waktu yang akan datang warga NB mendapat kesempatan mendapat sharing bermutu dari para senior yang lain.

Dunia Maya vs Dunia Nyata

Dunia maya (dumay) selalu punya dinamika lebih hebat dan menghebohkan. Interaksi dumay jauh lebih berwarna karena menghimpun beragam manusia dan obsesi gilanya. Tulisan di dumay menjadi satu-satunya kekuatan yang diandalkan untuk mempengaruhi bahkan mendoktrin pemikiran pembaca.

Tentu beda dinamika ketika kita bertemu di dunia nyata. Senyum, jabat tangan, sapaan, tatapan mata membuat kita sulit menyembunyikan pikiran dan kemauan hati kita. Kita cenderung bersahabat (manusiawi).

Ibu Yohana Fransiska, Ketua Panitia acara Natal & Tahun Baru Bersama keluarga NB di Jakarta, menyapa seluruh anggota NB sambil menegaskan satu hal ini.

"Puji syukur kepada Tuhan, malam ini kita boleh bertemu dan berkumpul di tempat yang nyaman ini walaupun sebelumnya melewati perjalanan yang melelahkan. Ada yang dari kantor, ada yang dari rumah, bahkan ada yang datang dari kota lain. Semuanya itu karena satu tujuan, INGIN BERTEMU DI DUNIA NYATA."

Selama ini kita bertemu, saling menyapa, saling berkomunikasi melalui dunia maya, melalui komentar dan like-like tunjuk jempol. Malam ini kita bisa bertatapan wajah, berjabatan tangan dan berpelukan dalam dunia nyata, demikian ibu Ketua Panitia mengawali sambutannya penuh semangat.

Florasta Indonesia dan Hangagadu Record

Acara kedua warga NB di Jakarta ini, pertama digelar Januari 2012, terasa sangat spesial karena didukung oleh Florasta Indonesia, event organizer milik MC berbakat George Soge Soo dan rumah produksi Hangagadu Record milik Fransiskus Dorelagu, tokoh muda dan pemerhati budaya kelahiran Watuneso, Ende.

Menu yang ditampilkan (round down acara) begitu variatif dan atraktif, sementara suasana atau horison malam itu berwarna dan sangat memukau.

Gemerlap busana pesta (motif Nagekeo) dan spotlighting direkam dengan sempurna oleh kamera dari Hangagadu Record. Sebuah kolaborasi yang sukses membentuk memori indah dari taman mini yang indah.

Florasta Indonesia juga menghadirkan anggota NB di luar negeri untuk menyaksikan acara pesta, menggunakan teknologi Skype dan siaran langsung oleh radio streaming Pendugu. Bung Giorgio Babo Mogi dari kota Townsville, Australia dan bung Julius Lakiwoa dari Jepang muncul di layar besar Skype, dengan ekspresi wajah yang cemburu karena Admin NB terlampau menguasai panggung malam itu.

Malam itu benar benar sangat spesial oleh hadirnya orang-orang spesial. Sebut saja, Ivan (Embun) Nestroman, penyanyi ternama asal Manggarai Flores yang punya istri cantik asal Nagekeo. Bung Ivan, lewat lagu Mogi e sukses menghadirkan suasana puncak bagi anggota NB dalam pertemuan di anjungan NTT itu.

Rekan-rekan dari Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Nagekeo (Himappen) Jabodetabek memberi kesan pertama yang hebat untuk segmen tarik suara melalui lagu Holy Night.

Bung Tobby Ndiwa, musisi dan penyanyi berbakat, yang juga konsultan hukum, tampil solo dengan lagu pembuka yang memukau dan mengundang decak kagum dari artis dan politisi Charles Bonar Sirait.

Fransiska Bura Rossy juga memberi warna dengan lagu berjudul Fusu Bugu karya Kolonel Epi Embu Agapitus. Tidak ketinggalan Alfredo Jose de Woi Wuda dan Leonardo Charismatika Dorelagu, artis penyanyi dari SD Mardiyuana Depok, Jawa Barat tampil energik dengan tembang Beta So Rindu karya Fransiskus Dorelagu, produser musik Hangagadu Record.

Turut mengisi acara dengan penampilan vokal adalah Inyo Nabu, Valens Daki-Soo, Primus Dorimulu, dan Valentinus Jandut.


Turut mendukung acara:

PT Veritas Dharma Setya (VDS)
Primus Dorimulu
Epi Embu Agapitus
William Yani (Nuwa Wea)
Vitalis Ranggawea
Yosef Djuwa Dobe Ngole
Abraham Rungamali
Sandy Romualdus
Emmanuel Billy
Kayetanus Feto
Aristo Yanuarius Seda
Romanus Muda Kota
Alfonsius Atu Kota
Ignasius Sape Kota
Benny Daga
Alamsyah Pua Saba
Adrianus Patiwea
Yohana Fransiska
Florentina Mogi
Sisilia Florentina Kita
Peppy Wuda
Silvia Sea
Prita Bisara
Keluarga Nagekeo Cikarang
Nusrin Daga
Mario Benedicto Hanu
Berto Du'e
Vian



Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 6:48 PM

Hati ingin menangis, ingin menjerit..tapi saya wartawan harus netral

Oleh Camelia Pasandaran Wiguna
  • Ujian emosional ketika meliput Penghancuran Bangunan GEREJA

    Hari ini adalah salah satu ujian emosional terbesar dalam hidup saya, ketika saya meliput penghancuran HKBP Taman Sari, Setu, Bekasi. Saya harus bisa memisahkan jati diri sebagai orang Kristen yang tentu tak rela melihat sesamanya menderita, dan profesi sebagai jurnalis.
    Pemerintah kabupaten Bekasi memutuskan untuk menghancurkan gereja ini hari ini (Kamis, 21 Maret 2013) karena tidak memiliki IMB. Pdt. Adven Leonard Nababan, pendeta gereja tersebut mengatakan pada saya bahwa gerejatersebut sedang mengurus IMB dan telah mendapatkan tanda tangan dari masyarakat lokal. Proses untuk mendapatkan IMB terhenti di bulan januari ketika ada penolakan dari orang-orang yang tak berdomisili di sana.
    Cemelia Pasandaran Wiguna
    Pagi hari situasi biasa saja di sekeliling gereja. Ada kelompok bernama Forum Umat Islam Taman Sari berdemonstrasi sekitar setengah kilometer dari lokasi. Anggota gereja masih duduk-duduk tenang di halaman gereja. Meski kuatir, beberapa dari mereka mengatakan masih berharap pemda bekasi membatalkan rencana tersebut.

    Lalu ekskavator itu datang, si mesin penghancur.

    Seorang Ibu bernama Nia Pandiangan yang menggendong anak balitanya menangis meratap. Dia bersimpuh di depan para petugas Satpol PP dan memohon mereka untuk tidak menghancurkan gerejanya. Anak-anak kecil dan ibu-ibu mulai menangis. Dalam putus asa, bapak-bapak mulai menyanyi lagu gereja dalam bahasa Batak yang berjudul “Harap Akan Tuhan.” Sebagian lain berdoa sendiri-sendiri.

    Sesaat saya ingin sekali memeluk ibu Nia dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Sesaat saya ingin bergabung bersama mereka dan melawan pemerintah daerah yang selalu menolak dialog dengan mereka dengan berbagai alasan. Sesaat saya ingin ikut berdoa dan bernyanyi bersama mereka. Sesaat saya ingin menangis dan teriak bersama mereka dalam kesedihan. Sesaat saya ingin membantu pengacara gereja yang terus menunjukkan undang-undang bahwa pembongkaran tersebut ilegal.

    Tapi saya wartawan. Saya di sana untuk meliput. Kalau sekali saja saya terlihat memihak orang gereja, akan sulit untuk saya mewawancarai orang-orang FUIT. Di sinilah netralitas diuji.

    Mempertahankan kenetralan posisi mempermudah saya untuk berbicara dengan anggota FUIT dan Satpol PP. Mereka dengan berapi-api memberikan informasi yang saya tanyakan. Dan di akhir wawancara, setelah meminta no telepon mereka, saya mengucapkan terima kasih dan tersenyum pada mereka, senyum yang meski saya upayakan terlihat setulus mungkin sebenarnya tidak lahir dari hati.

    Sesungguhnya dalam hati saya ingin mengatakan pada mereka bahwa mereka sudah melakukan kesalahan. Saya ingin mengatakan pada orang-orang FUIT itu bahwa mereka harusnya bekerja untuk menghidup keluarga, dan bukan mendukung penghancuran rumah ibadah di tengah-tengah jam produktif. Saya ingin mengatakan pada Satpol PP bahwa mereka telah bertindak bodoh dengan hanya melaksanakan perintah tanpa menganalisanya dengan hati dan otak.

    Tapi sekali lagi, saya wartawan.

    Ketika mesin penghancur itu merubuhkan bangunan semi permanen gereja tersebut, meski saya sangat ingin menangis, saya menahannya. Saya merekam video, mengambil foto dan mewawancarai orang dengan memasang pembatas tinggi pada dinding emosi saya. Saya wartawan dan saya harus netral. Saya harus tetap tersenyum pada nara sumber, dan berusaha dengan strategis untuk mendapatkan informasi.

    Tak masalah mengambil gambar dua orang anak kecil yang menangis terisak-isak ketika mereka katakan mereka kehilangan sekolah minggu mereka. Meski ibu mereka katakan pada mereka utk tak membenci musuh, saya tak bisa bersimpati terlalu dalam. Tak juga jadi masalah tersenyum pada orang-orang yang mungkin sudah kehilangan hati nurani. Saya kan wartawan. Ini masalah kerja, bukan personal.

    Tak masalah ketika saya mendengarkan bagaimana Bapak Panjaitan, seorang anggota gereja bercerita bahwa jemaat sendiri yang mengumpulkan uang dan membangun gereja itu sendiri. Meski cerita mereka seharusnya membuat orang terharu, saya tidak bisa menunjukan simpati berlebihan. Karena saya wartawan.

    Saya pun tetap menahan diri untuk tetap tak berpihak ketika Pdt. Adven Nababan mengucapkan terima kasih dengan manis pada polisi dan satpol pp serta kelompok FUIT untuk apa yang mereka lakukan hari ini dan memberkati mereka, lepas dari apa yang sudah mereka lakukan.

    Ya Tuhan, sungguh hati ingin menangis, sungguh hati ingin menjerit. Tapi saya wartawan, saya harus netral.

    Maka ketika gereja tersebut sudah rata dengan tanah, orang-orang beranjak pergi, saya melepas atribut saya sebagai wartawan, kartu pers, tablet, catatan wawancara saya masukkan. Saya hampiri satu ibu yang terlihat sangat sedih berdiri di bawah pohon. Dia tak menjerit atau melawan seperti banyak ibu lainnya di sana. Air mata jatuh satu satu di pipinya.

    Saya pegang tangannya, dan saya katakan “Ibu, saya bukan jemaat sini. Saya hanya wartawan yang meliput. Tapi ibu, percayalah, saya merasakan apa yang ibu rasakan. Saya berharap Tuhan akan mendirikan gereja yang lebih indah dan besar untuk ibu dan jemaat di sini.”

    Ibu itu menatap saya dan hanya dua kata keluar “terima kasih.” Dan dia kembali menangis.

    Malam ini, saya merasa tak lagi kuat menahan emosi. Ketika saya saksikan video yang saya rekam, ketika melihat foto-foto anak-anak dan ibu-ibu menangis, ketika saya lihat Satpol PP mendorong ibu-ibu yang bersimpuh di depan mereka…. Saya hanya manusia.

    Ya saya wartawan, tapi saya punya perasaan. Ketika tugas itu sudah selesai, maafkan saya, saya juga ingin menangis.


Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 7:21 AM

PAUS FRANSISKUS: Sebuah refleksi dari VATIKAN untuk kita semua


Oleh Lucky Raja

Paus Fransiskus bukan saja pribadi yang mahir dalam berbahasa tetapi sikap dan kata-katanya sungguh - sungguh mengartikulasikan inti terdalam dari bahasa itu sendiri.

Tidak terbatas pada formulasi kata-kata yang terucap dalam bahasa asing. Tetapi lebih merupakan bentuk bahasa cinta. Sesuatu yang mampu bergerak melewati horizon manusiawi. Tanpa sekat dan perbedaan. L’odio, l’invidia, la superbia sporcano la vita. Benci, iri hati dan angkuh, mencemari hidup. Menghancurkan jembatan dialog. Melenyapkan damai di bumi.

Ada suatu keharusan yang teramat dalam ketika Paus merangkul Bartolomeus I, dalam misa ponteficalnya. Sebuah tanda perdamaian dan dialog antara Paus Fransiskus dan Patriarkal Ekumene Konstantinopel, Bartolomeus I, yang naik sampai altar di alun-alun Santu Petrus.

Ini merupakan peristiwa yang pertama dalam sejarah di mana Patriarkal Gereja Timur Ortodoks mengambil bagian dalam misa di dalam territorial Kepausan Romawi, setelah skisma yang terjadi di Timur pada tahun 1054.

Perlu digaris bawahi bahwa paus Fransiskus sendirilah yang membuat keputusan untuk memberikan kesempatan dalam misa hari itu di mana INJIL dibacakan dalam bahasa YUNANI.

Rupanya sebuah perwujudan kata-katanya sendiri, di mana sejak awal ketika ia terpilih sebagai pemimpin Gereja Katolik, dari atas balkon Bergoglio lebih suka memperkenalkan dirinya dengan Uskup Roma, ketimbang Paus. Selain itu ada hal lain yang menarik. Perlu disadari bersama terutama bagi setiap orang Kristen.

Tuhan tidak menginginkan sebuah rumah yang dibangun manusia, tetapi menginginkan kesetiaan manusia akan SABDANYA, akan RANCANGANNYA. Dan Tuhan sendiri akan membangun rumahNya namun bukan dari batu-batu buatan manusia melainkan dari dari batu-batu yang hidup yang ditentukan oleh ROH KUDUS.

Tuah tidak bias dikandangkan dalam batas-batas sempit kriteria kemanusiaan kita. Ada yang lain dari pendahulunya, ketika Paus Fransiskus berjalan dengan mobil kepausan tanpa terlindung dalam boks kaca anti peluru.....dengan cara ini ia lebih memilih dekat untuk menyapa umat...memberi salam dengan sentuhan dan ulasan senyum keramahan seorang gembala yang baik.

Gambaran Gereja yang bergerak keluar lebih jauh dari simbol-simbol pembatas spirit pelayanan yang paling otentik. Menyentuh dan merangkul mereka yang jauh dan terlupakan. Terlihat berkali-kali ia mendekati umat di alun-alun Santu Petrus untuk memberi salam, namun tetap di bawah kawalan para pengawal Vatikan.

Cinta sejati hanya dapat diungkapkan dengan tuntas lewat pemurnian hati yang mengukuhkan penyerahan diri yang total kepada Kristus. Dialah sumber cinta tak terbatas yang memberi dengan bebas tanpa memilah-milah siapa pemintanya.Ti Vogliamo bene Papa Francesco. Kami mencintaimu Paus Fransiskus! Ya! Seluruh Gereja mencintai dan tetap berjalan bersamamu!
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 7:51 PM

Menyambut Bergulirnya “Revolusi” Paus Fransiskus


Oleh Pastor Dr Paulinus Yan Olla MSF*)

Asap putih telah mengepul dari cerobong asap Kapel Sistina dan tepat pukul 20.26, Kardinal Jorge Mario Bergoglio, 76 tahun, asal Argentina yang terpilih Paus yang ke-266 mengantikan Benediktus XVI, tampil di balkon Basilika Santo Petrus menyapa massa yang histeris. Seruan “Habemus Papam” (kita mempunyai Paus baru), yang diikuti penyebutan namanya sempat membuat umat yang hadir terdiam. Lapangan Santo Petrus terhenyak dan sepi untuk sejenak karena kebanyakan hadirin tidak begitu mengenalnya.

Tradisi pemilihan nama memperlihatkan arah rohani atau “politik pastoral” yang akan mewarnai pemerintahan seorang Paus. Ketika Kardinal Ratzinger memilih nama Benediktus XVI, pilihan itu mengindikasikan arah kepemimpinannya. Ia ingin mengikuti teladan hidup Santo Benediktus, yang meletakkan dasar bagi tumbuhnya iman di Eropa. Paus Benediktus XVI memang dalam pemerintahannya yang hanya berusia 8 tahun berusaha untuk mengarahkan Gereja agar kembali ke dasar-dasar iman Kristiani.

Kardinal Bergoglio adalah seorang religius Yesuit tetapi tidak memilih nama Ignatius untuk menghormati pendiri Yesuit. Ia lebih memilih nama Fransiskus untuk merujuk pada spiritualitas dan iman Santo Fransiskus Assisi (1182-1226). Ia menjadi Paus pertama dari Ordo Yesuit, Paus pertama dari benua Amerika Latin dan Paus pertama yang menggunakan nama Fransikus.

Mengomentari soal pemilihan nama, satu jam setelah pengumuman pemilihan Paus, di Televisi Rai Uno (Italia) Direktur biara Assisi, Padre Enzo Fortunato mengungkapkan bahwa Paus yang baru sesungguhnya akan mengikuti Santo Fransiskus mengadakan suatu “revolusi kasih” dalam Gereja. Ketika tampil di depan publik untuk pertama kalinya Paus mengajak semua umat yang hadir untuk berdoa “Bapak Kami” dan diikuti “Salam Maria”. Doa “Bapak Kami” menurut Enzo Fortunato merupakan “doa revolusioner”nya Santo Fransiskus. Fransiskus memutuskan menyerahkan dirinya kepada Allah yang menjadi Bapanya dan bukan mengandalkan kekayaan ayah biologisnya.

Kerendahan Hati

Fransiskus Assisi menampakkan wajah Gereja yang rendah hati dan sederhana. Kardinal Bergoglio nampaknya mengambil nama itu untuk membawa kembali Gereja pada jalan kerendahan hati dan kesederhanaan serta semangat persaudaraan dalam Gereja.

Sebelum dimulainya sidang Konklaf (pemilihan Paus), Dewan Kardinal telah berdiskusi selama satu minggu. Juru bicara Vatikan, Padre Federico Lombardi mencatat bahwa dalam kurun waktu itu terdapat 161 intervensi. Diskusi-diskusi itu membahas masalah-masalah utama Gereja yang mendesak untuk dihadapi oleh Gereja masa kini dan karenanya ikut menentukan figur Paus yang akan dipilih. Maka pemilihan Kardinal Bergoglio sebagai Paus merupakan jawaban para Kardinal atas situasi Gereja saat ini.

Harapan para Kardinal dan harapan Gereja terhadap Paus terpilih untuk mengadakan pembaruan nampaknya tidak berlebihan. Santo Fransiskus Assisi telah mengadakan revolusi kasih dengan menanggalkan pakaiannya di hadapan ayahnya untuk memilih jalan kemiskinan radikal. Jalan hidup sederhana telah dijalani pula Kardinal Bergoglio, Uskup Agung Buoenos Aires yang kini menjadi Paus.

Ia telah tampil di Argentina sebagai simbol orang tertindas ketika terjadi krisis ekonomi tahun 2005. Ia membela orang-orang kecil yang menjadi korban kebijakan ekonomi global. Sebagai Uskup Agung ia memilih tinggal di apartemen yang sederhana dan bukan di istana keuskupan yang mewah. Ia mengistirahatkan mobil limousine dan memilih ke tempat kerjanya dengan naik bus umum. Di apartemennya ia tidak mempunyai pemasak karena memasak dikerjakan sendiri untuk dirinya.

Aroma kerendahan hati dan kesederhanaan serta hidup rohani yang mendalam pun sangat terasa oleh siapapun yang pada malam tanggal 13 Maret 2013 hadir di halaman Basilika Santo Petrus. Massa yang larut dalam kegembiraan dan sorak-sorai dalam hitungan detik diam sunyi ketika diajak Paus terpilih untuk hening mendoakan pendahulunya Paus emeritus Benediktus XVI. Ia juga memohon doa bagi dirinya dan wakilnya di Keuskupan Roma sebelum akhirnya memberikan berkatnya untuk kota Roma dan dunia (berkat Urbi et Orbi).

Paus Fransiskus yang berdiri di Balkon Basilika tidak mencari kata-kata muluk atau melakukan tindakan atraktif untuk menarik perhatian massa. Ia memantulkan kerendahan hati dan kesahajaan hidup Santo Fransiskus Assisi yang ingin diikuti jejaknya dalam pelayanannya bagi Gereja dan dunia. Ada keyakinan besar seperti diungkapkan Adrea Riccardi, profesor sejarah dan pendiri Komunitas San Egidio, bahwa Paus Fransiskus akan menampilkan wajah Gereja yang rendah hati tetapi kuat secara rohani dan kuat dalam mengambil kebijakan bagi kehidupan Gereja. Ketika masih sebagai Kardinal ia mampu menemukan banyak orang yang bisa membantunya dalam karya pelayanannya.

Paus yang dilahirkan di Argentina 17 Desember 1936 ini, kiranya akan dapat menggulirkan revolusi kasih yang telah dilakukan Santo Fransiskus Assisi di masa lampau dalam usahanya membarui Gereja. Pembaruan itu tidak dilakukan dengan mengobral kata dan janji tetapi melalui cara hidup yang sepadan dengan kehendak Allah yang diimani dan dikasihinya. Satu jam setelah pengumuman terpilihnya Paus, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengirim ucapan selamat kepada Paus terpilih dan menobatkannya sebagai “Paus kaum miskin.”

Rupanya Obama pun mengetahui ceritera tentang Kardinal Bergoglio yang pada tahun 2001 membasuh dan mencium kaki para penderita AIDS di sebuah rumah sakit di Argentina. Kini Gereja dan dunia menyambut Paus baru dan menantikan terus berlangsungnya revolusi kasih Fransiskus Assisi dalam diri Paus Fransiskus yang telah memulainya dalam hidupnya sebagai Kardinal. Revolusi kasih itu akan menjadikan Gereja di masa depan lebih rendah hati dan sederhana. Gereja yang demikian akan memperlihatkan sikap dasar Yesus yang tidak ingin dilayani tetapi mau melayani. Kredibilitas Paus sebagai pemimpin pun dikembalikan pada esensinya, yakni melayani Tuhan dengan “menjadi hamba dari segala hamba” (servus servorum Dei).
Selamat bertugas Santo Padre!

*) Penulis saat ini bekerja di Dewan General MSF (Roma), asal Kefamenanu, Timor Barat
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 10:26 AM

Jejak-jejak Kecil KERENDAHAN HATI Paus Fransiskus


Catatan dari Pater Jimmy Balubun

ata dan tindakan yang ‘tersembunyi ‘ dari Paus Francis 24 jam setelah terpilih menjadi Paus. Menurut Juru bicara Vatikan Pastor Frederico Lombardi

1. Ketika terpilih menjadi paus di kapel Sistine paus memilih untuk tidak menempati kursi atau tahta paus melainkan melainkan hanya berdiri dan menyalami para cardinal satu persatu;

2. Paus Francis menggunakan pakaian kepausan yang biasa tanpa assesoris red mozzeta (the elbow-length cape worn by high-ranking prelates) juga stola dan hanya menggunkan salib sederhana yang dipakainya saat masih menjadi uskup;

3. Paus tidak menggunakan mobil khusus untuk pergi ke casa Santa Maria, ia memilih menggunakan mini bus yang digunakan para cardinal selama masa konklave. Paus mengatakan saya akan menggunakan misi bus karena saya datang ke sini dengan bus bersama anda semua dan akan kembali juga dengan bus;

4. Pada saat makan malam di Casa Santa Maria, pada saat toast dari para cardinal paus mengatakan ‘semoga Tuhan mengampuni anda sekalian atas apa yang telah anda lakukan’ hehehehe;

5. Pada pagi hari ia berkunjung ke St Mary Major basilica untuk berdoa kepada Maria kurang lebih 10 menit;

6. Paus menggunakan common Vatican service car dan tidak mau menggunkan the papal limousine;

7. Paus hanya ditemani oleh sedikit penjaga keamanan tanpa pengawalan kepolisan;

8. Ketika kembali ke Vatikan Paus meminta sopir untuk singgah di the Paul VI International House. Dia turun dan menyalami para tamu dan staf di situ mengucapkan terima kasih atas apa yang telah mereka kerjakan. Yang menarik adalah dia mengambil barang-barang bawaanya (bagasi) dan kemudian membayar kamar yang telah ia gunakan selama beberapa waktu tinggal di situ.

Paus sementara membuat Reformasi dalam Gereja kita dan nyatalah spiritualitas fransiskus benar-benar dihidupi. Kita tunggu ‘apa lagi yang akan terjadi hari-hari yang akan datang.

Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Duc in Altum***
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 8:23 PM

PAUS FRANSISKUS I: Sebuah catatan "selamat datang"


Oleh Valens Daki-Soo

"Annuntio vobis gaudium magnum: Habemus Papam!" Begitu suara Kardinal Tauran dari balkon Basilika St. Petrus Vatikan mengumumkan hasil konklav. Dari jauh kita saksikan hadirnya pemimpin baru Gereja Katolik sedunia: Paus Fransiskus I.

Paus yang nama aslinya (Kardinal) Jorge Mario Bergoglio, terakhir Uskup Agung Buenos Aires Argentina, ini digambarkan sebagai pribadi yang amat sederhana dan rendah hati. Beliau tinggal di apartemen sederhana dan masak sendiri. Beliau dikenal sangat cerdas semasa seminari hingga kemudian melanjutkan studinya di Jerman. Dengan begitu warna hidupnya multikulturalis : berdarah Italia, berkebangsaan Argentina, studi di Jerman (yang boleh disebut salah satu 'sentrum' perkembangan ilmu pengetahuan modern). Selain unggul secara akademis, memiliki kepandaian dalam filsafat dan teologi, Jorge muda juga berminat tinggi dalam sastra, meski mulanya setamat sekolah menengah ingin jadi ahli kimia.

Soal kepandaian, itu sudah klir. Semua paus pasti cerdas, apalagi seperti Paus Emeritus Benediktus XVI yang lama menjadi profesor teologi, salah satu teolog terkemuka Gereja di balik layar Konsili Vatikan II.

Namun, saya tertarik pada karakter Paus baru ini yang begitu dekat dengan orang-orang terpinggirkan. Cintanya kepada kaum marjinal tampak dalam praktik hidupnya. Beliau pernah mencuci kaki para pengidap HIV-AIDS dan mencium kaki mereka. Sebagai uskup beliau pun pernah menegur pastor yang tidak mau membaptis anak-anak hasil hubungan di luar nikah. Saya hanya membaca sekilas kisah tentang sosok yang masih 'asing' ini, namun sepenggal cerita itu sudah lebih dari menarik.

Kita simak nama yang diusungnya: Fransiskus I. Kita lantas tergiring pada sosok Fransiskus de Assisi, seorang santo yang mereformasi Gereja pada zamannya menjadi lebih spiritual. Gereja kala itu amat menonjolkan kemegahan duniawi dan keagungan fisik-simbolik. Fransiskus menentang itu dan mengembalikan Gereja ke spirit aslinya. Fransiskus pun menjembatani dialog monumental dengan pemimpin Islam di Palestina saat 'Perang Salib' berkecamuk. Fransiskus juga sangat mencintai lingkungan alam. Matahari, bulan, bintang dan isi hutan pun disapa sebagai saudara.

Dengan begitu, kita boleh berharap Sri Paus yang baru akan memperkuat sikap Gereja yang pro kehidupan, membela keutuhan alam semesta dan segenap makhluk ciptaan, lantang bersuara untuk orang-orang kecil-papa yang hidup menderita. Juga, melanjutkan dialog yang konstruktif dengan saudara-saudara beragama lain.

Sahabat, kita ucapkan selamat datang kepada Sri Paus Fransiskus I. Kerendahan hatinya menjadi teladan nyata -- mengikuti jejak Yesus Sang Guru Sejati -- bagi kita semua, khususnya mereka yang menjadi pemimpin religius dan pemimpin umumnya.

Salam bahagia.
VDS
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 8:16 PM

MENGAPA PERLU BERDOA?


Oleh: Valens Daki-Soo

Pertanyaan ini mungkin dianggap cocok untuk anak SD (sekolah dasar), karena terlalu gampang dijawab. Persoalannya, mengapa di negeri yang penuh masjid dan gereja ini kejahatan terus merebak, termasuk korupsi berkembang-biak hebat dan dilakukan secara berjamaah? Apakah kita semua benar-benar berdoa? Maaf, pertanyaan ini mungkin 'nakal' sebagai refleksi malam ini.

Doa adalah komunikasi dengan Tuhan, Sang Pencipta. Anak TK pun tahu definisi pendek ini. Namun doa tidak sekadar komunikasi melainkan "imperatif", perintah kepada si pendoa agar hidup "di tengah dunia seraya mampu melampaui keduniawian itu".

Berdoa tidak sekadar mendaraskan bacaan-bacaan doa wajib, atau berlutut di gereja hingga 'kaki keram'. Memang itu baik, perlu dan penting, tetapi lebih hebat jika itu dibuat bukan karena takut dihukum atau karena aturan belaka. Sholat lima waktu bagi seorang Muslim adalah kewajiban, yang akan lebih kuat dampaknya jika dilaksanakan sepenuh jiwa-raga karena cinta dan takwa kepada Sang Khalik, bukan karena kewajiban semata.

Habitus berdoa mesti berbuah dalam sikap, perilaku dan akhlak. Anda yang Katolik selama masa Prapaskah ini rajin mengikuti "Jalan Salib", apakah itu sekadar ritus dan tradisi ataukah mampu mentransformasi pola dan "isi" hidup kita? Anda yang Muslim rajin sholat dan "wirid", apakah Anda tergerak untuk menjadi agen perubahan ke arah lebih baik?

Kita berdoa bukan karena takut dan 'merasa berdosa jika tidak berdoa', melainkan karena meyakini, "doa adalah nafas kehidupan". Berdoa bikin kita mendapat akses untuk mengalami "situasi pencurahan Daya Ilahi", situasi "pemurnian hati", situasi "pemantapan jati diri".

Sahabat, saya bicara ini karena pernah bahkan sering mengalami dahsyatnya kekuatan doa dalam kehidupan masa lampau maupun kini yang penuh pergulatan, tantangan dan godaan. Betapa saya menyukuri derasnya energi Ilahi karena dan di dalam doa.

Doa membuka katup kesadaran kita tentang "siapa kita di hadapan Yang Ilahi". Itu sebabnya pendoa sejati pasti rendah hati, bening nurani dan luhur budi pekerti.

Sahabat, kita berjuang ke arah itu ya.

Salam bahagia.
VDS
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 7:45 PM

PAUS, "SERVUS SERVORUM"


Oleh Valens Daki-Soo

Hari-hari ini umat Katolik sedunia menantikan kabar gembira dari Vatikan. Biasanya setelah konklaf (pemilihan paus oleh dan dari antara para kardinal), seorang kardinal senior akan memberi pengumuman di balkon Vatikan, "Annuntio gaudium magnum: Habemus Papam!" -- Saya mewartakan kegembiraan besar: Kita mempunyai Paus!

Figur Paus dalam hirarki Gereja sering dinilai secara 'salah kaprah'. Misalnya, mengapa orang Katolik mendewa-dewakan manusia? Bagaimana bisa Paus disembah? Apa alasan Paus dikultuskan? Saya tegaskan, Paus tidak didewakan, tidak disembah, tidak dikultuskan. Umat Katolik menghormatinya, bukan mendewakan. Nasihat spiritual dan ajaran/ ensiklik-nya didengar dan dipatuhi, tapi bukan pribadinya yang disembah (hanya kepada Tuhan, kita menyembah). Kepemimpinan dan kewibawaan rohaninya ditaati, tanpa di-"kultus individu"-kan.

Saudaraku, dalam komunitas apa saja, ada pemimpin. Bahkan dalam arisan ibu-ibu tingkat RT pun ada koordinator. Lalu bagaimana mungkin sebuah organisasi religius sebesar Gereja Katolik tidak punya pemimpin? Dalam bingkai pemahaman teologis (Katolik), Paus bukan sekadar pemimpin, apalagi pemimpin politik yang memburu kekuasaan dengan berbagai cara. Paus adalah pemimpin spiritual yang merupakan "primus inter pares", yang pertama di antara para pemimpin umat Katolik.

Sebagai pemimpin spiritual, Paus merupakan -- dan diyakini sebagai -- "man of God" (manusia yang berbakti kepada Tuhan) dan "man for others", manusia pengabdi sesama. Dia adalah "pelayan segala pelayan" (Latin "servus servorum").

Segala kemuliaan yang tampak dari dirinya (termasuk yang disimbolkan melalui jubah dan atribut kebesaran) BUKAN-lah ditujukan untuk mempermuliakan dirinya sendiri, melainkan sebagai cara simbolik Gereja menghadirkan kemuliaan Tuhan Mahaagung. Tuhan adalah "Raja segala raja", itulah yang hendak dipancarkan melalui keindahan dan keagungan Kota Vatikan, dan juga 'kebesaran' seorang Paus. Kalau mahkota seorang raja duniawi bertatahkan mutu manikam dalam segala kemewahan, seorang Paus hanya mengenakan jubah kebesaran, "mitra" (topi tinggi) dan "tongkat gembala" sebagai lambang kekuasaan Ilahi yang diberikan kepada pemimpin Gereja -- penerus kegembalaan Santo Petrus, rasul Kristus yang diangkat sebagai pemimpin perdana Gereja sebagai "umat Allah" -- dalam mengarahkan dan membimbing umat Allah di padang penziarahan hidup ini.

Paus tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Kemuliaan duniawi akan cepat menguap seperti air, cepat habis terbakar seperti jerami. Yang hendak dihayati dan dihidupkan dalam praksis kepemimpinan seorang paus (dan seyogianya pemimpin spiritual manapun) adalah kerelaan untuk menyerahkan diri secara total bagi pelayanan dan dedikasi bagi kebaikan universal. Suatu penyerahan diri yang hanya bisa dimengerti dalam konteks cinta maha agung: tanda cinta Ilahi yang tidak bertepi.

Paus tetaplah seorang manusia dengan segala kerapuhan manusiawi seperti kita, sehingga beliau butuh doa-doa kita. Namun tentu sebagai pribadi matang, para pemimpin spiritual sudah terdidik, terbina dan teruji mengolah diri agar menjadi teladan hidup bagi banyak orang. Kita percaya, Tuhan bisa berkarya melalui siapapun dan apa saja, termasuk para pemimpin spiritual dari agama manapun, sejauh mereka mampu "hidup dalam kebaikan dan menjadi teladan kebajikan".

Salam bahagia.
VDS
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 9:02 PM

Filsafat itu Kekasih



Berfilsafat sama seperti nge-date. Kalau kamu pernah bercinta dengannya, kamu akan merindukan dia. Kalau kamu dengan sengaja melupakan dia, dia akan terus dikenang. Dia pernah mengajarkan, setiap percobaan untuk melupakan adalah cara lain untuk mengingat.

Jujur, kekasih ini tidak akan memberikan kejayaan ekonomis secara langsung. Tetapi, dia memperkaya kemanusiaanmu. Dia tidak menghujat kekayaan.

Dia memberikan makna untuk bagaimana kita harus bersikap atas kekayaan.

Kalaupun kita memilih untuk tidak menjadi ahli filsafat, toh kita tahu bagaimana cara berfilsafat. Kita mungkin akan mempertanyakan dia, bukan dengan kebencian, tetapi dengan rasa cinta. Persis seperti sebagaimana kita harus bersikap kepada kekasih.

Meluangkan waktu dengan kekasih bukan wasting time atau wacana tanpa aksi. Karena, bagaimanapun, nge-date itu sendiri adalah sebuah aksi. Toh, hidup ini sebuah pesta yang harus dirayakan. Nah, tergantung kita mau memilih berpesta di Pacific Place atau di jembatan serong Rawasari. Lah, wong kekasih ini juga tidak materialistis kok. (STF Driyarkara, on dating, 21/2)

Redaksi Nagekeo Pos sengaja mengutip kembali tulisan di atas karya seorang anggota forum Nagekeo Bersatu, Agustinus Tetiro.

Tentu karena Filsafat sedang menjadi sorotan sejak munculnya cerita seorang pastor bernama Herman Jumat Masan alias Herder yang membunuh kekasihnya Merry Grace alias Yosephine Keredok Payong tahun 2002. Kasus ini baru terkuak tahun lalu. Menurut pengakuan, Herder ternyata telah membunuh anak pertama hasil hubungan intim dengan Merry Grace dan anak kedua yang masih dalam kandungan.

Berikut komentar facebookers untuk testimoni Filsafat adalah Kasih;

Yasintus Ariman: "dia sanggup menyingkapkan yang tersembunyi bahkan yang sulit dinderai, dia hidup dalam diri setiap insan pencinta kebenaran walau mungkin mereka tak pernah menyadarinya."

Novita Angelina: "dia bukan musuhku, tetapi kekasihku!"

Nagekeo Bersatu: "pantassss .. FILSAFAT itu ternyata KEKASIH .. melebihi ana fai .. bercermin dari kasus HERDER dan kekasihnya MERRY GRACE .. ehm ehm."

Agustinus Tetiro: "Hahaha... kalau itu biologisasi. Kalau filsafat sebagai kekasih makna kehidupan. Di satu sisi, tidak ada korelasi langsung filsafat dengan masalah itu. Mungkin karena keduanya sarjana filsafa maka orang menarik sejauh itu. Kalaupun mau ditarik-tarik korelasinya, maka ada satu kutipan yang saya suka,"Karena filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan, maka semua tindakan biadab sarjana filsafat membuktikan bahwa yang bersangkutan tidak tuntas mempelajari filsafat (baca: etika)."

Agustinus Tetiro: "Memang, filsafat harus terus digoda, dibujuk, dikritik biar dia jangan mapan. soalnya, kalau mapan mereka gara-gara ngeri. hehehe...."

Nagekeo Bersatu: "jangan salah banyak wanita sekarang suka Filsafat.. merry grace itu wanita pencinta filsafat ULUNG .. ha ha e e."

Agustinus Tetiro: "Hahahaee... kalau ada waktu baca saya mau pinjamkan buku kisah asmara para filosof: Anna Arendt dengan Heidegger atau Sartre dengan Simone de Beauvoir."

Masih banyak herder yang berkeliaran

Seorang facebooker juga menulis dirinya mengenal sangat dekat dengan Merry Grace saat kuliah di Ledalero. "Masih ada banyak "Herder" yang berkeliaran yang belum ditangkap...di luar sana..," tulisnya.

Robert EppeDando: "Mesu eee, oa Mery Grace dan anak2nya.... Mery Grace adalah teman kami di Ledalero. Orangnya smart & beauty."

Hermin Waga: "Perlu diketahui, si Mery jg adalah salah satu mahasiswa filsafat dgn kakak sy. Kebetulan kuliah sama2. Orgnya baik, lumayan cantik diantara2 frater2 pd jaman tsb sehingga bnyk digoda oleh frater2 karena cewek sendiri. Pd waktu itu beliau msh berstatus suster."

Gervas Rado: "sedih jg, imamat sdh menjadi senjata untuk merengkuh seluruh nafsu duni (baca:oknum)."

Seorang facebooker juga menulis masih ada dua orang pastor, yang juga dosen cerdas, di wilayahnya yang berani menikah dan hidup aman saja.

"Di tempat saya ada beberapa pastor bahkan sebagian dari ntt, mrka melakukan tindakan asusila dg pembntu pastoran sampai hamil, suka memeluk remaja misdinar, termasuk sya yg dulu SMP masih polos belum mengerti knp romo paroki d t4 paman saya tugas katekis sering memeluk perempuan remaja, ternyata berdasarkan laporan dr warga paroki sebelumnya, pastor tersebt mmang gemar memeluk wanita..termasuk tukang masak pastorn,, saya jd ilfiil dg romo itu, jd takut berada didekat romo itu tkt dia macam2..," tulis seorang facebooker yang lain yang mengaku saat ini tinggal di sebuah daerah di Kalimantan.

"Kadang bukan umat awam yg tidak tahu malu, romonya jga tidak tahu diri, idak sadar posisi, harusnya mampu menahan godaan, knp hny umatnya yg salah? kalo HJM itu romo yg baik, tidak akan dy keluar dr janji sucinya, lalu menghamili wanita dan melakukan pembunuhan,, ap pantas d respek romo demkian?" tambahnya.

Kornelya Agus" "Ini pelajaran bagi lelaki lain, bahwa melakukan hubungan seks berdampak tanggung jawab moral dan materil, regardless status sosial di masyarakat. Pendidikan tinggi, berbudaya, terpandang dan beragama tidak selalu manusiawi. Laki-laki beradab dan terhormat, tak lari dari tanggung jawab aksi kelaminnya."

Filsafat bisa menjerumuskan

Seorang facebooker seolah mengkambinghitamkan Filsafat dari kasus Pastor "Herder", pembunuh sadis itu. "FILSAFAT bisa menjerumuskan .. jubah dan krudung ternyata bisa dipakai untuk membaluti dosa," tulisnya. "MERRY GRACE potret wanita Flores yang punya kecerdasan tapi berubah jadi wanita bodoh ketika jatuh dalam cinta dengan seorang pria .. wanita Flores mungkin banyak punya tipe seperti ini .. PRIHATIN." tambahnya.

Nagekeo Bersatu: "FILSAFAT bisa saja telah membungkam hati nurani .. apa yang diajarkan FILSAFAT? jadi penasaran .. FILSAFAT terlalu mengandalkan logika dan rasional berpikir .. maka jangan heran banyak yg belajar FILSAFAT berubah diri menjadi seorang ATHEIS."

Maksi Alfredo Sihabit: "Filsafat bukan membuat orang jd ateis, tpi bljr Filsafat buat kita menganalisa realitas dengan teliti."

Martinianus Primus Mbeu: "Ini bukan permasalahan filsafatnya ataupun status dia pernah jadi frater atau imam kala itu tetapi ini masalah pendekatan perilaku dalam behavioral approach yang dilakukan oleh seorang herder yang kejam. Filsafat itu ilmu kebenaran sedangkan kebenaran itu sudah diungkapkan dan tinggal ditegakkan saja."

"Kita tidak boleh memandang sebelah mata mengenai peristiwa ini sebab ini jalan kemaksiatan terbesar di flores kita tercinta ini. Filsafat tidak pernah salah, kesalahan itu terjadi bila manusianya tidak punya kontrol diri yang baik dan pertanggungjawaban yang benar. Mohon maaf,saya kurang sependapat bila saudara menyalahi pembelajaran filsafat. Kalau manusia tidak memiliki kelogisan dalam berpikir kemungkinan besar dia tergoncang pribadinya dan ini berkaitan dalam psikologi yang perlu diteliti pada saudara Herder sebagai pelaku pembunuhan," tambah Martinianus.

Yongky Wawo: "Intinya bukan pada filsafatnya...tapi aktor yg belajar filsafat. Sejatinya filsafat sebagai sebuah ilmu perlu diinternalisasikan dan pada akhirnya diaktualisasikan secara tepat. Dengan demikian tujuan pendidikan tercapai. Tujuan pendidikan adalah memanusiwikan manusia.

Bukan hanya kemanusiaannya sendiri tetapi juga kemanusiaan orang lain. Tergambar lewat moto pahlawan dari tanah Minahasa Sam Ratulangi 'si tou tomua tu mou tou'."

Mosa Yoga: "Hidup tidak kawin para biarawan juga hrslah mulai dipercakapkn. Intelektualitas teologi ternyata belum mnjamin integritas moral."

Sisilia Florentina Kita: "Jangan salahkan Filsafat. org yang belajar Filsafat itu ga pernah mengandalkan TUHAN dalam hidupnya. sehingga kejadian yang mery alami, membuat pelakunya merasa biasa aja. sedangkan sy yg hanya baca beritanya aja sampai merinding....sadis eeeee seberapapun pintarnya org itu...jangan pernah meninggalkan TUHAN, karena dgn dekatnya kita sama TUHAN, kita bisa mengontrol diri."

Man for others

Berikut komentar, seorang tokoh awam asal Flores yang tinggal di Batam, Aloysius Dhango:

Pastorpun manusia juga, pada saat2 tertentu dia merasa kesepian dan membutuhkan belaian kasih sayang sebagaimana pernah dilakukan seorang Ibu kpd anaknya. Biasanya para pastor kita tercinta melakukan yg namanya sublimasi sebagai pengganti kerinduan mereka akan hal2 yg dirasa wajar apabila dilakukan oleh kaum awam.

Ada skala prioritas nilai yg sdh biasa dijadikan pertimbangan ketika mrk berhadapan dengan godaan, misalnya ketika mengingat seorang gadis cantik yg pernah memberikan senyuman menggoda kpdnya dan itu terlekat dalam ingatannya, mrk malah mendoakan gadis itu agar menjadi gadis yg baik dan cepat dapat jodoh. Doa adalah senjata ampuh utk melawan semua godaan.

Umat harus menyadari sehingga tdk memberikan respon yg berlebihan ketika melihat gelagat pastor yg agak aneh. Sebagai umat yg peduli dgn pastornya, mestinya dia memberikan teguran, sapaan agar pastor sadar akan panggilannya yg suci. Jgn bergosip yg macam2 yg justru menjerumuskan pastor utk nekad mengingkari janjinya.

Berikan perhatian yg wajar sebagai umat yg baik dan mencintai pastornya sehingga mrk terus sadar akan keberadaan mrk sebagai imam, nabi dan gembala umat. Usahakanlah agar para janda atau gadis yg berkonsultasi dgn pastor tdk menangis atau menunjukkan kesedihan yg mendalam di hadapan pastor agar merka tdk terlelap dalam permasalahan/kesedihan kaum hawa yg berkonsultasi. Kalau pastor sdh terlelap dan secara tak sadar mengusap air matamu atau memeluk, hendaknya cepat disadari bhw kehadiranmu sdh mengarahkan pastor utk pelan2 menjauh dari tugasnya yg mulia yakni Man for others.... Maaf kalau sy salah.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 12:10 PM

"Mengatasi Agama"

Oleh Primus Dorimulu
‎
Hari gini, masih ada orang Indonesia yang bertengkar soal agama.
Agama adalah soal iman dan iman adalah hal yang sangat pribadi.
Untukmu agamamu, untukku agamaku.
Mari kita mendalami agama yang kita imani,
bukan mengomentari agama yang orang lain imani.
Mempelajari agama lain penting untuk toleransi.
Mempelajari agama lain bukan untuk mendebat dengan pemeluk agama lain tentang agama orang lain.
Bagiku agama hanyalah sarana.
Agama bukan tujuan.
Tujuan hidupku adalah Allah, Tuhan Semesta Alam.
Dia yang memberikan oksigen dan hujan bagi semua orang.
Penyelenggaraan Allah sudah menunjukkan heterogenitas.
Maka janganlah menunggalkan segala sesuatu.
Pendidikan yang baik mengikis sikap monolitik.
Pendidikan yang buruk menyuburkan sikap anti-pluralitas.

Allah ""mengatasi" (atau melampaui) agama.
Maka Allah tidak sama dengan agama.
dan agama tidak sama dengan agama.
Meng-Allah-kan agama adalah sebuah kepicikan.
Allah di atas segalanya, juga di atas agama.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 9:34 PM

AKU...seperti apakah aku?


Oleh Ferrer Mere

Seperti apakah Aku..?
Pikiranku..?
Perkataanku..?
Perbuatanku..?
Tindakanku..?
Masa laluku..?
Saat ini..?
Nanti..?
Aku bukan pelupa!
Aku belum tahu!

Seperti apakah Aku..?
Aku juga tahu!
Aku juga ingat!
Aku juga punya!
Aku juga mau!
Aku juga ingin!
Aku juga buat!
Aku juga sama!
Dengan caraku!
Tapi..?
Insafkah Aku..?
Bertobatkah Aku..?

Seperti apakah Aku…?
Maaf…
Aku pengagum feodalisme!
Aku terus senang kolonialisme!
Aku terpaut konglomerianisme!
Aku tipe materialisme!
Aku memang konsumerisme!
Aku suka hedonisme!
Bahkan…
Aku sanggup seperti kanibalisme!

Ini Aku…
Aku sebetulnya kompensasi!
Aku sedang introspeksi!
Aku sebenarnya proyeksi!
Aku selalu indentifikasi!
Aku ada mekanisme!
Aku pun ternyata rasionalisasi!

Ah..?
Ternyata Aku ranting!
Dia juga ranting!
Mereka sama ranting!
Ya...
Kita semua ranting!
Bisa kering.
Dapat patah.
Mampu hangus.
Dibakar!
Karena…
Pada Pokok yang sama kita kembali.
DIA.
YANG BERTITAH.
SANG POKOK ITU.

Di hari doa, pantang, puasa dan amal kasih.
Mof, Jumad, 15/2/2013
VFME, Pr.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 6:17 AM
 
Join Our Group On Facebook
Follow Us
Support Us With Your Advertise

VESAM ETNIK

VESAM ETNIK
Admin: Hans Obor | Mozalucky | Nagekeo Bersatu
Copyright © 2013. NAGEKEO POS - All Rights Reserved
Thanks To Creating Website Modify and Used by Nagekeo Bersatu
Proudly powered by Blogger