From World for Nagekeo
Headlines News :
Bonie AC Advertise
Support Us With Your Advertise
Showing posts with label Pendidikan Nasional. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Nasional. Show all posts

Skandal guru nagekeo dan siswi jakarta (narasi wartawan)


DEPOK (Nagekeo Pos)

Hane (guru asal Nagekeo) itu awalnya bekerja di Jakarta (1997), menulis berita luar negeri terkait pasar modal bagi pelanggan kantornya di area Tebet, dekat stasiun kereta api. Dapat jam kerja malam, Hane berselancar ria di dunia maya (internet) hingga pagi, mencari berita luar negeri.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 9:04 AM

Ketua Alumni: Jadikan Seminari Mataloko sebagai Center of Excellence

 
JAKARTA (Nagekeo Pos) - Sudah 88 tahun Seminari St Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko masih berdiri tegak dan megah meski dalam 5 tahun terakhir sedang mempercantik diri (membangun gedung yang baru berikut fasilitasnya). Lembaga pendidikan calon imam ini telah mencetak lebih dari 5,000 alumni, 356 imam/pastor, 13 uskup, dan sekitar 3365 anak didiknya menyebar di seantero dunia.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 12:01 AM

Jambore Literasi Jawa Barat, 2 Siswa Nagekeo Jadi Inspirator

DEPOK (Nagekeo Pos) - Emmanuel Petrus Andito Tangi Wonga, akrab disapa Piter, dan Caecilia Annabel Novalita Dea Bay adalah dua siswa SD yang terpilih diantara 1700 siswa (SD-SMP) se-Propinsi Jawa Barat dalam Jambore Literasi Jawa Barat 2017. Jambore ini digelar tanggal 1-2 November 2017 bertempat di Kiarapayung, Jatinangor Sumedang.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 12:00 AM

Maximus Ali Perajaka: Jangan Bersembunyi di Balik Kepalsuan

WISUDA LPK SAINT MARY 2013:


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Saat memberi pidato sebagai Direktur Akademi Sekretari dan Manajemen LPK Saint Mary Internasional, Maximus Ali Perajaka, M.Sc memberi pesan bagi 112 wisudawan/wati pada Sabtu (7 November 2013) untuk tidak bersembunyi di balik kepalsuan ketika terjun dalam kerja nyata atau dunia usaha.

Teruslah bertumbuh menjadi diri sendiri yang sejati, bukan diri yang palsu, bersembunyi di balik topeng, dan mudah terbawa arus jaman..!, pintanya. Dia menandaskan, hukum yang lemah, budaya korupsi, budaya kekerasan dan virus narkoba telah menggiring banyak pekerja di kantor atau perusahaan ke dalam hidup penuh kepalsuan.

Maximus Ali mengklaim bahwa Saint Mary sebagai sebuah lembaga akademi telah mendidik dan membentuk wisudawan/wati menjadi diri mereka sendiri sehingga diharapkan dapat sukses menjadi pribadi yang sehat, baik secara fisik, karakter, intelek, spiritual maupun sosial di kampus kehidupan atau dunia kerja nyata itu.

Di dalam bisnis, diakui, tak sedikit karyawan ataupun eksekutif yang gemar pakai jalan pintas, menyuap atau menggadaikan diri sendiri untuk mendapatkan karir yang lebih tinggi. Sementara di sektor pemerintahan, tak kurang pejabat publik yang terdakwa korupsi karena ingin jadi kaya dengan cara gampang.

Tentu saja, anda - para wisudawan - tak ingin tercebur dalam dunia kepalsuan seperti itu. Nah, apa yang mau anda lakukan? demikian Maximus Ali menantang para anak didiknya.

Suatu fenomena lain yang juga mengungkung dunia kita sekarang adalah kompetisi yang kian ketat dan mengglobal serta tak jarang dilakukan secara liar dan tak fair. Fenomena seperti ini menjadi suatu ancaman serius bagi para lulusan sekalian karena dalam waktu dekat kesepakatan tentang liberalisasi tengara kerja antara negara-negara di kawasan kita segera berlaku.

Menghadapi hal itu, satu pesan Maximus Ali adalah "jangan pernah berhenti belajar untuk mengasah kompetensi dirimu! Selain itu, andapun hendaknya belajar untuk meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lintas budaya, memperluas jaringan dan bekerja dalam semangat tim. Jika anda mengabaikan hal-hal itu maka tak mustahil anda menjadi seorang yang gampang frustrasi, kesepian, patah semangat lalu tersingkir dari arena kerja profesional."

Jangan pernah ingin tinggal di zona aman (comfort zone)

Ibu Dyah Yuli, MM, direktur operasional PT Veneta of Indonesia, ikut bicara sebagai wakil dunia usaha. Dalam nada pelan tapi mantab, ibu Dyah meneguhkan hati 112 wisudawan/wati Saint Mary untuk tidak gampang menyerah dalam menghadapi tantangan dan kesulitan di dunia kerja nyata.

Kesulitan dan masalah adalah ilmu yang tidak dipelajari di kampus. Jadi harus berani hadapi masalah dan kesulitan di dunia kerja. Semakin banyak masalah dan kesulitan yang dihadapi maka anda tentu akan terbang lebih tinggi, ujar ibu Dyah provokatif.

Lebih hebat lagi, ibu Dyah menantang para wisudawan/wati untuk tidak pernah ingin berada di zona aman (comfort zone) karena jika demikian maka tenaga profesional tipe ini pasti berhenti untuk berkembang.

Organisasi dijalankan manusia, di dalamnya perlu pengembangan diri, karena untuk menuju sukses manusia harus berkompetisi, maka human capital (SDM trampil) harus tingkatkan kompetensi dan ketrampilan, jelasnya.

Saat ini Saint Mary menawarkan 4 unit pendidikan, 3 akademi dan 1 lembaga kursus. 1) Akademi Sekretari (program diploma I dan III), 2) Akademi Bahasa Asing (diploma III), Akademi Pariwisata (perhotelan dan perjalanan wisata - program diploma III).

Pendaftaran mahasiswa baru telah dibuka dan ditutup pada February 2014. Biaya kuliah Rp650,000 per bulan. Di tahun pertama, biaya pendaftaran Rp100,000, biaya orientasi + jaket almamater Rp400,000, uang muka Rp4 juta, uang pembangunan Rp1,5 juta, dan seragam Rp800,000. Saint Mary juga menawarkan program bea siswa bagi mahasiswa berprestasi.

Alamat: Jl. AM Sangaji No 6 Petojo Jakarta Pusat, fax (021) 6328207, www.lpksaintmaryinternational.ac.id.


Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 1:09 PM

Dokter, Pengacara: SDM Rendah Kompetisi


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Sedikit terhenyak, tiba-tiba seorang doktor ilmu komunikasi asal Manggarai, Dr. Felix Jebarus, Msi., IAPR, bilang dalam orasi ilmiah di acara wisuda Akademi Sekretari, Pariwisata, dan Bahasa Asing (ABA) Saint Mary, Jakarta hari ini, bahwa sumber daya manusia (SDM) dengan profesi dokter, pengacara, dan akuntan memiliki daya saing (kompetisi) paling rendah.

Tentu ini debatable, tapi Felix Jebarus punya alasan. Dokter, pengacara dan akuntan adalah contoh profesi yang tertutup artinya hanya mereka yang belajar khusus di bidang keilmuan ini bisa bekerja di sektor ini.

Beda dengan sektor lain misalnya profesi wartawan karena semua orang dengan latar belakang apapun bisa menjadi wartawan. Ini namanya profesi terbuka makanya persaingan bagi profesi terbuka sangatlah besar.

Omong-omong, di Saint Mary ternyata ada putra Nagekeo (Maukeli) yang telah menyabet gelar Doktor, yakni Dr. Clemens Doy, MA, direktur ABA Saint Mary. Udah berapa banyak orang Nagekeo dengan gelar Doktor? Seingat awak Redaksi, putra Nagekeo dengan gelar Doktor seperti Daniel Daki Dae, pater Philipus Tule, SVD, pater Lukas Jua, SVD, uskup San, Pr.

Jangan bersembunyi di balik kepalsuan

Saat memberi pidato sebagai Direktur Akademi Sekretari dan Manajemen Saint Mary, Maximus Ali Perajaka, M.Sc memberi pesan bagi 112 wisudawan/wati untuk tidak bersembunyi di balik kepalsuan ketika terjun dalam kerja nyata atau dunia usaha.

Teruslah bertumbuh menjadi diri sendiri yang sejati, bukan diri yang palsu, bersembunyi di balik topeng, dan mudah terbawa arus jaman..!, pintanya. Putra asal Nangaroro ini menandaskan, hukum yang lemah, budaya korupsi, budaya kekerasan dan virus narkoba telah menggiring banyak pekerja di kantor atau perusahaan ke dalam hidup penuh kepalsuan.

Maxi Ali mengklaim bahwa Saint Mary sebagai sebuah lembaga akademi telah mendidik dan membentuk wisudawan/wati menjadi diri mereka sendiri sehingga diharapkan dapat sukses menjadi pribadi yang sehat, baik secara fisik, karakter, intelek, spiritual maupun sosial di kampus kehidupan atau dunia kerja nyata itu.

Di dalam bisnis, diakui, tak sedikit karyawan ataupun eksekutif yang gemar pakai jalan pintas, menyuap atau menggadaikan diri sendiri untuk mendapatkan karir yang lebih tinggi. Sementara di sektor pemerintahan, tak kurang pejabat publik yang terdakwa korupsi karena ingin jadi kaya dengan cara gampang.

Tentu saja, anda - para wisudawan - tak ingin tercebur dalam dunia kepalsuan seperti itu. Nah, apa yang mau anda lakukan? demikian Maxi Ali menantang para anak didiknya.

Suatu fenomena lain yang juga mengungkung dunia kita sekarang adalah kompetisi yang kian ketat dan mengglobal serta tak jarang dilakukan secara liar dan tak fair. Fenomena seperti ini menjadi suatu ancaman serius bagi para lulusan sekalian karena dalam waktu dekat kesepakatan tentang liberalisasi tengara kerja antara negara-negara di kawasan kita segera berlaku.

Menghadapi hal itu, satu pesan anak emas ibu Nia Dania, ketua Yayasan LPK Saint Mary Internasional, ini adalah "jangan pernah berhenti belajar untuk mengasah kompetensi dirimu! Selain itu, andapun hendaknya belajar untuk meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lintas budaya, memperluas jaringan dan bekerja dalam semangat tim. Jika anda mengabaikan hal-hal itu maka tak mustahil anda menjadi seorang yang gampang frustrasi, kesepian, patah semangat lalu tersingkir dari arena kerja profesional."

Jangan pernah ingin tinggal di zona aman (comfort zone)

Ibu Dyah Yuli, MM, direktur operasional PT Veneta of Indonesia, ikut bicara sebagai wakil dunia usaha. Dalam nada pelan tapi mantab, ibu Dyah meneguhkan hati 112 wisudawan/wati Saint Mary untuk tidak gampang menyerah dalam menghadapi tantangan dan kesulitan di dunia kerja nyata.

Kesulitan dan masalah adalah ilmu yang tidak dipelajari di kampus. Jadi harus berani hadapi masalah dan kesulitan di dunia kerja. Semakin banyak masalah dan kesulitan yang dihadapi maka anda tentu akan terbang lebih tinggi, ujar ibu Dyah provokatif.

Lebih hebat lagi, ibu Dyah menantang para wisudawan/wati untuk tidak pernah ingin berada di zona aman (comfort zone) karena jika demikian maka tenaga profesional tipe ini pasti berhenti untuk berkembang.

Organisasi dijalankan manusia, di dalamnya perlu pengembangan diri, karena untuk menuju sukses manusia harus berkompetisi, maka human capital (SDM trampil) harus tingkatkan kompetensi dan ketrampilan, jelasnya.

Dominasi Flores

Redaksi Nagekeo pos terharu dan bangga setelah tahu bahwa manajemen pendidikan LPK Saint Mary Internasional ternyata didominasi putra-putra terbaik dari pulau Flores, pulau yang mungkin sebentar lagi mendeklarasikan dirinya sebagai propinsi baru, wilayah otonom paling menjanjikan kemajuan di sektor pendidikan di negeri anta branta ini.

Selain kae Maxi Ali dan om Klemens Doy, putra Flores lainnya yang menjadi pilar pengembangan mutu pendidikan di Saint Mary ini adalah kesa Adrianus Rusmin, S. Fil (pembantu direktur I Akademi Sekretari) asal Manggarai, kae Christophorus Bernadus Embunggada, S. Fil (pembantu direktur III Akademi Pariwisata) asal Ende, Johanes Ngamal, SE, M.Si, asal Manggarai, dan Rikhardus Mosa Dhae, MA. asal Nangaroro-Nagekeo.

Selain nuansa Flores, ada nuansa Seminari Toda Belu Mataloko, di kampus Saint Mary ini. Mereka semua ternyata datang dari almamater yang sama yakni Seminari Mataloko, terkecuali Johanes Ngamal. Awak Nagekeo Pos, juga alumnus Seminari Mataloko, tentu mendapat sambutan lebih special di acara wisuda hari ini. Ehm, narsis dulu boleh dong.

Belum banyak orang muda nagekeo dan Flores pada umumnya memilih studi di Saint Mary. Kali ini redaksi Nagekeo Pos hadir di acara wisuda untuk memberi apresiasi khusus bagi wisudawati asal Nagekeo bernama Silvia Sea, yang juga anggota Nagekeo Bersatu (NB).

Silvia sangat berharap angkatan muda pelajar asal Nagekeo mau mengikuti jejaknya karena Saint Mary tidak sekedar mendidik namun turut membantu memberi lowongan pekerjaan setelah tamat nanti. Silvia, putri dari almarhum Martinus Wuda ini, sudah bekerja di sebuah perusahaan jasa tour and travel, berkat mendapat rekomendasi dari Saint Mary.

Ingin menjadi putra putri Nagekeo yang berhasil? Segera daftar sekarang juga di kampus Saint Mary.

Alamat: Jl. AM Sangaji No 6 Petojo Jakarta Pusat, fax (021) 6328207, www.lpksaintmaryinternational.ac.id.

Pendaftaran mahasiswa baru telah dibuka dan ditutup pada February 2014. Biaya kuliah Rp650,000 per bulan. Di tahun pertama, biaya pendaftaran Rp100,000, biaya orientasi + jaket almamater Rp400,000, uang muka Rp4 juta, uang pembangunan Rp1,5 juta, dan seragam Rp800,000. Saint Mary juga menawarkan program bea siswa bagi mahasiswa berprestasi.

Saat ini Saint Mary menawarkan 4 unit pendidikan, 3 akademi dan 1 lembaga kursus. 1) Akademi Sekretari (program diploma I dan III), 2) Akademi Bahasa Asing (diploma III), Akademi Pariwisata (perhotelan dan perjalanan wisata - program diploma III).


Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 10:40 PM

Nama KOMPAS Pemberian Bung Karno


Oleh Stefanus Yanuarius Baghi

Harian Kompas terbit pertama kali tanggal 28 Juni 1965, atau 45 tahun yang lalu. Pendirinya adalah PK Ojong, Jakob Oetama, dan Frans Seda. PK Ojong dan Jakob ketika itu sudah mengelola majalah Intisari yang terbit tahun 1963.

Menurut Frans Seda yang ketika itu adalah anggota kabinet, ide pertama pendirian koran ini datang dari Menteri Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani. Dia mengusulkan agar kalangan katolik mendirikan harian umum untuk mengimbangi PKI.

Situasi politik tahun memang panas. Hampir semua partai politik mempunyai koran sebagai alat propagandanya. Akan tetapi Partai Katolik ketika itu belum memiliki koran sendiri.

Frans Seda akhirnya bertemu dengan PK Ojong dan Jakob Oetama, dua tokoh yang ketika itu sudah mengelola Majalah Intisari. PK Ojong sebelumnya juga mengelola majalah berbasah Inggris Star Weekly, Sedangkan Jakob Oetama mengelola majalah Penabur.

Sebagai langkah pertama, dibentuklah sebuah yayasan dengan nama Yayasan Bentara Rakyat yang rencananya akan menerbitkan harian bernama Bentara Rakyat juga. Salah satu alasannya, kata Frans Seda, nama Bentara sesuai dengan selera orang Flores. Majalah Bentara, katanya, juga sangat populer di sana.

Pemilihan kata Rakyat juga tanpa tujuan. Menurut Frans Seda, itu dimaksudkan untuk mengimbangi Harian Rakyat milik PKI. Bukankah kata Rakyat itu bukan monopoli PKI?

Untuk mendapatkan izin penerbitan ketika itu bukan perkara mudah. Selain aparat yang mengatur perizinan dikuasai PKI, penerbit juga harus bisa menunjukkan bukti bahwa sudah ada pelanggan sekurang-kurangnya 3.000 orang. Maka, Frans seda kemudian menginstruksikan kepada anggota-anggota partai, guru-guru sekilah, dan anggota Koperasi Kopra Primer di Kabupaten sikka, Ende Lio, dan Flores Timur untuk secepat mungkin mengirim daftar 3.000 pelanggan, lengkap dengan tanda tangan dan alamat.

Setelah tercapai, Frans Seda kemudian menghadap Bung Karno untuk melaporkan rencana penerbitan koran itu. Tanya Bung Karno" "Apa nama harian itu?" Jawab Frans Seda: "Bentara Rakyat."

Mendengar jawaban itu Bung Karno tersenyum dan berkata: "saya memberi nama yang lebih bagus. Kompas! Tahu toh apa artinya Kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan adn hutan rimba. Maka, harian baru itu terbit dengan nama Kompas.

Meski lahir dibidani partai, sejak awal PK Ojong dan Jakob sepakat minta agar harian baru itu tetap independen. Sebab, sejak awal PK Ojong hanya koran yang independenlah yang akan bisa berkembang dari sisi bisnis maupun redaksionalnya.

Dalam perjalanan panjangnya selama 45 tahun, Kompas pernah dua kali dilarang terbit (dibreidel). Tanggal 2 Oktober 1965, pemerintah melarang semua koran tetbit, berkait dengan peristiwa G30S/PKI, termasuk Kompas. Larangan itu kemudian dicabut, dan Kompas terbit kembali tanggal 6 Oktober 1965.

Pembreidelan kedua terjadi 21 Januari sampai dengan 6 Februari 1978. Ketika itu, Kompas bersama sejumlah koran lain dilarang terbit karena memberitakan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 9:19 AM

RAHASIA DI BALIK Gelar PROFESOR


Oleh Andreas Lako

Sejak diangkat jadi Guru Besar pada akhir 2010 hingga kini, dalam sejumlah kesempatan saya sering mendapat kata2 pujian dari banyak orang sebagai berikut:

Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 9:29 PM

Pers Menjaga Independensi

Oleh Primus Dorimulu

Independensi pers kini semakin menjadi sorotan publik. Penampilan sejumlah media, terutama media televisi yang secara kasat mata menjadi corong pemiliknya membuat pemirsa, khususnya kalangan tertentu yang memiliki ambisi politik, tidak merasa nyaman. Pers dinilai menyalahgunakan domein publik untuk memperjuangkan dan membela kepentingan pribadi pemilik media.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 9:10 PM
 
Join Our Group On Facebook
Follow Us
Support Us With Your Advertise

VESAM ETNIK

VESAM ETNIK
Admin: Hans Obor | Mozalucky | Nagekeo Bersatu
Copyright © 2013. NAGEKEO POS - All Rights Reserved
Thanks To Creating Website Modify and Used by Nagekeo Bersatu
Proudly powered by Blogger